Cara Mengajukan Cuti Kuliah

Anda sebagai mahasiswa sudah pasti memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi mulai dari belajar sampai kebutuhan hidup. Terutama yang terakhir biasanya lalu berdampak hampir pada semua lini kehidupan anda saat berkuliah. Wajar jika lalu anda ingin sekali menyelesaikan masalah tersebut agar tidak menjadi beban ketika anda berkuliah sembari menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang ada. Selain itu kondisi tertentu seperti kesehatan anda yang terganggu dan ekonomi keluarga juga sangat dimungkinkan dapat mengganggu kuliah anda.

Itulah mengapa beberapa perguruan tinggi termasuk Universitas Telkom memberi kelonggaran waktu bagi mahasiswanya dalam bentuk cuti kuliah. Cuti kuliah adalah semacam izin untuk tidak mengikuti kuliah dalam kurun waktu satu semester atau lebih tergantung keperluan mahasiswa. Anda bisa mengajukannya kepada pihak fakultas dan setelah itu anda diizinkan untuk tidak mengikuti perkuliahan. Selama cuti kuliah itulah anda bisa menyelesaikan masalah pribadi anda dengan harapan pada semester berikutnya perkuliahan anda akan berjalan lebih lancar dari yang sebelumnya.

Biasanya cuti kuliah ini membutuhkan pemikiran matang mengingat mahasiswa tidak akan mengikuti kegiatan perkuliahan secara penuh atau tidak masuk perkuliahan. Anda harus benar-benar mempertimbangkannya mengingat hal ini juga dapat memundurkan waktu perkuliahan dan kelulusan anda tentunya. Pastikan memang masalah yang anda hadapi memang tidak mudah dan membutuhkan persetujuan baik keluarga maupun dosen pembimbing. Terkadang hal tersebut memang sebatas formalitas, akan tetapi perlu untuk dilakukan terlebih jika kebutuhan anda memang mendesak.

Apa Itu Cuti Kuliah?

Jika anda sering mendengar istilah cuti maka anda seharusnya sudah paham mengenai topik satu ini. Cuti merupakan salah satu hak mahasiswa berupa libur atau menon-aktifkan perkuliahan untuk  sementara waktu. Setiap mahasiswa dapat menggunakan waktu non-aktifnya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, utamanya masalah pribadi. Kurun waktu cuti kuliah ini sebetulnya bebas untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Hendaknya anda juga disarankan untuk bijak dalam beraktivitas selama cuti kuliah berlangsung.

Perbedaannya adalah pada masa non-aktif kuliah yang berlaku. Cuti pekerja misalnya pada pekerjaan maupun instansi biasanya hanya diberlakukan beberapa hari atau maksimal dua minggu dalam setahun. Sementara cuti kuliah memiliki rentang waktu non-aktif sepanjang satu semester perkuliahan atau enam bulan dalam kalender. Dalam aturan baku yang berlaku mahasiswa dapat mengambil cuti sebanyak dua kali selama anda berkuliah. Artinya jika anda mengambil cuti selama dua semester, maka itu bisa dianggap non-aktif perkuliahan dalam waktu setahun. Cuti kuliah dalam rentang waktu tersebut bisa dibilang panjang.

Jika anda memiliki sejumlah permasalahan pribadi yang membutuhkan penyelesaian dan memakan waktu, maka mengambil cuti kuliah bisa jadi adalah pilihan tepat. Tentunya dengan rentang waktu panjang seperti itu maka anda diharapkan bisa menyelesaikannya dan melanjutkan perkuliahan pada semester berikutnya tanpa masalah berarti. Selain itu anda punya waktu untuk menyongsong perkuliahan selanjutnya dengan persiapan penuh. Anda juga bisa memanfaatkan cuti perkuliahan untuk mengambil beberapa acara non-formal baik di dalam maupun di luar kampus. Hal ini mengingat cuti kuliah adalah sifatnya menon-aktifkan kegiatan perkuliahan saja. Namun kegiatan lain semacam organisasi maupun tugas perkuliahan seperti skripsi atau thesis anda masih bisa mengerjakannya sembari menyelesaikan masalah pribadi anda.

  1. Alasan Mengajukan Cuti
  • Sedang sakit yang membutuhkan perawatan intensif cukup lama atau memakan waktu sehingga kegiatan akademik terganggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter bersangkutan.
  • Sedang mengalami kesulitan utamanya berkaitan dengan ekonomi mahasiswa baik dirinya sendiri maupun keluarga.
  • Bekerja untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa sendiri atau keluarganya selama waktu tertentu.
  • Mencari bahan untuk penelitian dalam kurun waktu setidaknya satu semester. Biasanya alasan ini membutuhkan persetujuan oleh dosen pengampu mata kuliah skripsi/tesis/disertasi.
  1. Aturan Cuti Kuliah
  • Mahasiswa pada semester awal (semester 1) tidak diizinkan untuk mengajukan cuti kuliah.
  • Cuti kuliah diperbolehkan dalam kurun waktu satu semester dan maksimal dua semester secara berturut-turut.
  • Tidak diperbolehkan mengambil cuti tambahan lebih dari dua kali atau dua semester lebih.
  • Memberi keterangan berupa surat pengajuan cuti kuliah.
  • Pengambilan cuti kuliah hanya diizinkan ketika mahasiswa sudah menyelesaikan kuliahnya atau maksimal sebelum masa akhir pembayaran uang semester.
  1. Cara Mengajukan Cuti Kuliah
  • Mahasiswa terlebih dahulu memberi informasi mengenai cuti kuliah yang akan diambil kepada dosen pembimbing bersangkutan.
  • Membuat surat pernyataan mengenai pengajuan cuti kuliah dengan rincian:
  1. Nama
  2. Semester
  3. Alamat
  4. Dosen Pembimbing
  5. Izin cuti pada semester yang dijalani
  • Surat harus ditandatangani mahasiswa bersangkutan dengan menyertakan materai Rp 10.000,-
  • Surat juga harus menyertakan tanda tangan dosen pembimbing dan ketua jurusan mahasiswa bersangkutan.
  • Surat diserahkan pada pihak fakultas melalui loket fakultas masing-masing maksimal ketika waktu pembayaran uang kuliah semester ditutup.
  1. Kelebihan dan Kekurangan Cuti Kuliah

Kelebihan:

  • Anda punya tenggang waktu lebih panjang untuk setidaknya menyelesaikan masalah anda secara pribadi.
  • Anda tidak perlu untuk membayar uang kuliah semester ketika anda mengambil cuti kuliah. Ini dikarenakan secara otomatis mahasiswa yang mengambil cuti kuliah berstatus tidak aktif untuk sementara waktu.
  • Cuti kuliah tentunya memudahkan mahasiswa dalam mengatur kembali rencana perkuliahannya jika nantinya akan masuk kuliah kembali.
  • Tidak ada pengurangan nilai ketika cuti kuliah diambil.

Kekurangan:

  • Waktu perkuliahan anda menjadi molor. Sebagai gambarannya perkuliahan anda yang mungkin selesai dalam waktu normal 3-4 tahun bisa jadi selesai dalam waktu 4-5 tahun. Utamanya jika anda mengambil cuti dua kali secara berturut-turut.
  • Pergantian mata kuliah yang mungkin dapat mengganggu studi anda. Ada beberapa jurusan yang mungkin menerapkan kurikulum baru ketika anda mengambil cuti kuliah. Hal ini menjadikan mata kuliah yang akan anda ambil mungkin tidak tersedia atau harus anda ambil pada semester berikutnya.
  • Waktu kelulusan anda juga bisa molor akibat imbas dari waktu perkuliahan yang juga molor disisi lain.
  • Ritme perkuliahan yang mungkin akan menjadi batu sandungan lain. Biasanya beberapa mahasiswa kehilangan fokus ketika mengambil cuti kuliah yang panjang sehingga harus mengingat-ingat kembali apa yang pernah dipelajari pada kuliah sebelumnya.
  1. Saran:
  • Jika anda memang berniat mengambil cuti kuliah karena masalah pribadi (bukan karena sakit), lebih baik mengambilnya cukup satu semester saja. Ini dikarenakan dalam waktu satu semester sudah cukup panjang.
  • Jika anda terpaksa mengambil cuti dalam setahun berturut-turut, pastikan bahwa anda mempersiapkan perkuliahan pada semester selanjutnya agar tidak kehilangan ritme perkuliahan. Anda bisa bertanya kepada teman atau dosen pengampu mata kuliah yang anda lewatkan saat cuti kuliah mengenai tugas dan beban mata kuliah bersangkutan.
  • Bijak selama cuti kuliah dengan menyelesaikan permasalahan sebaik-baiknya sehingga anda dapat melanjutkan perkuliahan pada semester berikutnya dengan lancar.

Masa Studi D3, S1, S2, dan S3

Setiap jenis pendidikan baik itu dasar, menengah dan tinggi sudah pasti memiliki masa studi yang harus dijalankan sampai seseorang dinyatakan lulus. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam belajar meskipun belajar sendiri tidak lekang oleh waktu. Program pendidikan apapun dirancang berdasarkan target yang ingin dicapai lembaga tersebut adalah alasan lain mengapa masa studi diperlukan. Tanpa target durasi yang dicanangkan artinya pendidikan akan terus berjalan tanpa arah yang jelas. Selain itu masa studi diperuntukkan bagi peserta didik untuk dilatih agar tidak membuang-buang waktu dan membuat batasan logis.

Masa studi lembaga pendidikan baik dasar dan menengah memiliki batasan jelas mengenai kapan seorang peserta didik harus dinyatakan selesai dengan pendidikannya. Contohnya sekolah dasar (SD/MI) memiliki waktu enam tahun masa studi yang harus dijalani seorang siswa. Sedangkan sekolah menengah pertama (SMP/MTS) dan sekolah menengah atas (SMA/MA/SMK) memiliki waktu pendidikan sama yaitu masing-masing selama tiga tahun masa studi. Itu belum termasuk pendidikan anak usia dini resmi seperti taman kanak-kanak (TK) yang punya masa studi sekitar dua tahun. Hal ini mengikat pada setiap lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta.

Namun hal yang agak berbeda jika anda sudah menyentuh perguruan tinggi atau sedang merencanakan studi lanjut. Masa studi lembaga perguruan tinggi memiliki waktu yang berbeda-beda meskipun terdapat pakem yang digunakan, yaitu batas maksimal kuliah. Setiap tingkat perguruan tinggi anda dapat menentukan kapan anda menghendaki lulus atau memaksimalkan waktu belajar anda. Artinya jika anda mengambil program studi tertentu, anda juga bisa lulus dengan waktu studi cepat sekitar tiga tahunan saja. Hal ini bisa menjadi benefit bagi anda yang ingin lulus cepat supaya segera bekerja atau melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Masa Studi D3, S1, S2, dan S3

Sebenarnya pendidikan tinggi menyediakan waktu belajar yang lebih longgar bagi mahasiswanya sampai dinyatakan lulus. Sekitar tahun 1990-2014 bahkan anda bisa kuliah S1 dalam waktu longgar, sekitar 7 tahun atau setara 14 semester. Namun saat ini terdapat pembatasan maksimal kuliah menjadi 5 tahun saja karena dinilai terlalu lama. Jadi ini bukanlah masalah apakah anda mau kuliah dengan kelulusan cepat atau lama, melainkan seberapa baik anda memanfaatkan waktu untuk belajar. Hal ini mengingat belajar bisa dimana saja dan kapan saja, namun harus ada target yang hendak dicapai. Batas waktu otomatis menjadi salah satu yang harus ditetapkan agar target tersebut terwujud. Berikut masa studi D3, S1, S2 dan S3: 

  1. Masa Studi Diploma 3 (D3)

Pendidikan diploma atau lebih dikenal dengan pendidikan vokasi adalah pendidikan yang berfokus pada keahlian dan praktek kerja. Di Indonesia jenis pendidikan ini hampir bisa ditemui merata mulai dari universitas sampai sekolah tinggi. Meskipun begitu biasanya pendidikan D3 tidaklah mendominasi meskipun keberadaannya di setiap sekolah tinggi ada dan eksis. Jurusannya juga sama dengan pendidikan tinggi lainnya dengan fokus yang berbeda-beda. Waktu belajar pendidikan diploma 3 ini secara umum dapat selesai dalam tiga tahun. Ketika menyelesaikan pendidikan vokasi ini biasanya mahasiswa wajib menyelesaikannya dengan hasil karya berbasiskan praktek langsung. Praktek tersebut lalu dijelaskan dalam bentuk paper tugas akhir dan dijelaskan kepada tiga dosen penguji yang ditunjuk oleh jurusan. Mahasiswa dianggap lulus apabila dapat menjelaskan karya yang ia buat dan signifikansi keilmuan yang didapatkannya. Selain itu lulusannya juga dapat melanjutkan ke tingkat S1 dengan waktu yang lebih singkat sekitar kurang dari dua tahun untuk melengkapinya dengan skripsi.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 1 (S1)

Pendidikan kesarjanaan yang pertama atau S1 adalah pendidikan sarjana yang berfokus pada pemahaman seputar teori dan praktek nyatanya. Pendidikan kesarjanaan sendiri adalah pendidikan tinggi yang mendominasi pendidikan universitas maupun sekolah tinggi. Jurusannya terbagi dalam beberapa rumpun keilmuan yang sifatnya lebih luas ketimbang pendidikan diploma. Waktu belajar pendidikan S1 berkisar antara 3,5 tahun sampai 5 tahun tergantung bagaimana cara mahasiswa menyelesaikan pendidikannya. Ada juga beberapa program studi jurusan yang mewajibkan batas minimal lima tahun studi sebagai syaratnya walaupun tidak banyak yang menerapkan hal ini. Bahkan dewasa ini tidak jarang kita melihat bahwa ada sejumlah kecil mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan S1 ini dalam waktu tiga tahun saja. Mahasiswa jika ingin lulus S1 harus menyelesaikannya dengan membuat penelitian berupa skripsi ataupun karya bergantung kebijakan jurusan. Skripsi maupun hasil karya akhir tersebut nantinya juga diuji oleh tiga dosen penguji yang ditunjuk oleh jurusan. Mahasiswa dapat dianggap lulus jika dapat menjelaskan penelitian dan karyanya dihadapan penguji.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 2 (S2)

Pendidikan pasca sarjana sebetulnya terbagi menjadi dua tingkat, yaitu tingkat magister dan doktoral. Tingkat magister inilah yang dinamakan pendidikan sarjana strata dua atau lebih dikenal dengan S2. Pendidikan S2 adalah jenis pendidikan tingkat lanjut yang biasanya lebih banyak dikonsentrasikan pada pengembangan teori, metodologi, fenomena keilmuan dan kemampuan manajerial. Penguasaan teori pada jenis pendidikan ini bisa dikatakan lebih luas ketimbang S1 yang berkisar pada pemahaman, sedangkan pada S2 lebih kepada pendalaman teori dan hipotesis. Tidak heran apabila pendidikan S2 lebih cocok bagi anda yang ingin menjadi peneliti, dosen atau ahli. Waktu belajar untuk pendidikan S2 berkisar antara 2 tahun sampai maksimal 3 tahun. Jika anda berniat melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri, terdapat program magister yang masa studinya hanya 1 tahun saja (terutama di Inggris). Pada akhir pendidikan S2 biasanya mahasiswa diwajibkan membuat penelitian yang dituangkan dalam bentuk tesis. Tesis sendiri merupakan sebuah karya penelitian yang lebih berfokus pada adaptasi teori, asumsi, hipotesis serta konsep terhadap kondisi untuk menjawab dan menjelaskan fenomena. Mahasiswa dianggap lulus pada tingkat ini apabila dapat menjelaskan karya yang ia buat dihadapan tiga dosen (doktor) penguji.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 3 (S3)

Pendidikan tertinggi yang sering disebut dengan pendidikan doktoral ini lebih berfokus pada pembuatan teori untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan doktoral pada satu sisi akan lebih banyak berkutat pada praktek penelitian lanjutan yang sudah dikembangkan mahasiswa cum peneliti. Walhasil pendidikan doktoral ini membutuhkan masa studi yang lebih panjang dari S2 namun uniknya hampir setara dengan pendidikan S1, yaitu sekitar 4 sampai maksimal 7 tahun. Jika anda berniat mengambil studi S3 di luar negeri, bahkan ada yang menawarkan studi doktoral hanya tiga tahun saja. Kriteria kelulusannya ditentukan pada hasil karya sebuah disertasi, yaitu penelitian yang mencoba untuk mengeksplorasi pemahaman baru atau bahkan bantahan terhadap teori lama. Perbedaannya adalah mahasiswa S3 biasanya membutuhkan seorang promotor penelitian (dosen pembimbing) sebelum pada akhirnya dinyatakan sebagai candidate dan menyelesaikan seluruh rangkaian studinya. Sistemnya agak berbeda dengan pendidikan tinggi dibawahnya yang biasanya hanya membutuhkan dosen pembimbing saja.

Cara Memperoleh IPK Tinggi

Setiap penilaian kompetensi mahasiswa terhadap sebuah mata kuliah haruslah punya ukuran untuk menunjukkan seberapa dalam pemahaman mahasiswa. Hal itulah mengapa indeks penilaian kumulatif (IPK) menjadi sangat penting. Ukuran penilaian IPK terdiri atas 1.00 sebagai nilai terendah sampai 4.00 dengan nilai tertinggi. 

Meskipun begitu, dibutuhkan usaha lebih untuk memperoleh nilai IPK yang baik apalagi tinggi. Benar bahwa nilai IPK bukanlah penentu utama kesuksesan studi anda, apalagi menentukan nasib anda. Namun IPK bisa dijadikan ukuran tentang seberapa serius dan usaha anda untuk memahami sebuah mata kuliah selama satu semester. Belum lagi jika anda tertarik untuk mengambil beasiswa atau program kerja tertentu yang membutuhkan IPK tinggi.

Dalam tulisan ini kami akan mencoba untuk memberikan tips bagaimana cara untuk memperoleh IPK tinggi. Namun sebelum anda menginjak ke caranya, terlebih dahulu anda harus memahami komponen apa saja yang dinilai dalam menentukan penilaian kumulatif. Dengan begitu anda akan menjadi paham sebelum menentukan bagian mana saja yang hendak anda maksimalkan dalam perkuliahan.

PengertIan IPK

IPK atau Indeks Penilaian Kumulatif adalah sebuah penilaian atau tolak ukur untuk membaca sejauh mana mahasiswa memahami perkuliahan. Biasanya pengertian mengenai IPK ini banyak sesuai cara pandang kita. Namun yang harus dipahami adalah IPK merupakan ukuran tertentu sejauh mana mahasiswa dapat mengikuti dan memahami perkuliahan beserta praktek, contoh konkret maupun beban yang diselesaikan. Itulah mengapa IPK dalam beberapa hal mencakup seluruh hal mulai dari kedatangan perkuliahan, keaktivan dan praktek sesuai mata kuliahnya.

Komponen penilaiannya pun ada banyak dan terkadang tidak seragam antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Hal ini dikarenakan IPK juga menyasar tujuan tertentu atau output dalam perkuliahannya. Ada yang menyasar pemahaman teoritik dan pengembangan konsep seperti pada mata kuliah teori, ada juga yang berbasis pada praktek. Jelasnya tergantung dari bagaimana rancangan perkuliahan itu nantinya dijalankan beserta tujuannya. Namun secara umum, ada beberapa aspek penilaian yang nantinya dituangkan dalam IPK, yaitu:

  1. Nilai UTS dan UAS (60-80%)

Biasanya dua hal inilah yang memegang peranan penting dalam penilaian perkuliahan. Cakupannya adalah dominan dan hal ini tidak bisa untuk ditawar apapun bentuknya. Bentuk ujian UTS maupun UAS bisa bermacam-macam, mulai dari menjawab pertanyaan yang diujikan maupun ujian dalam bentuk praktek. Bentuknya yaitu:

  1. Ujian Teoritik, biasanya anda akan mendapatkan pertanyaan baik secara teori, konsep maupun pengertian kausal yang nantinya anda harus menjawab sesuai dengan apa yang anda pahami.
  2. Ujian Praktek, ujian ini lebih banyak seputar tugas eksplorasi kemampuan anda dalam menjalankan alat atau instrumen perkuliahan tertentu. Ujian jenis ini biasanya dilakukan secara individual maupun berkelompok.
  3. Ujian Karya, ujian ini sebetulnya sama dengan ujian praktek pada dasarnya. Namun letak perbedaannya yaitu pada jenis output-nya yang berupa karya mahasiswa. Bukan seperti ujian praktek dimana mahasiswa hanya menjalankan instrumen atau alat tertentu di laboratorium atau tempat studi terpadu. Ujian ini biasanya dilakukan diluar kelas dan kampus, individu maupun berkelompok.
  1. Penugasan (30-45%)

Tugas yang diberikan dosen kepada anda biasanya memegang salah satu poin krusial. Jika merujuk pada mata kuliahnya, maka tugas perkuliahannya bervariasi sesuai dengan goal yang menjadi tujuannya. Namun secara bentuk, ada dua bentuk penugasan yang harus anda ketahui yaitu:

  1. Presentasi, tugas ini biasanya jamak dilakukan mahasiswa semester awal sampai semester akhir. Dalam beberapa hal poin presentasi ini memegang separuh dari penilaian penugasan, terutama jika presentasi anda baik.
  2. Paper atau makalah, biasanya berbentuk seperti materi studi yang biasanya disusun sesuai dengan arahan dosen pengampu mata kuliah. Ada juga yang bentuknya mirip dengan jurnal penelitian namun lebih banyak mengeksplorasi konsep, teori dan fenomena.
  3. Tugas karya, tugas yang diberikan dosen yang bentuknya bisa bermacam-macam sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Misalnya menghitung populasi pada makul metode kuantitatif, atau membuat berita seperti pada makul jurnalistik dan sebagainya.
  1. Keaktifan Perkuliahan (15-30%)

Keaktifan anda dalam sebagai korektor, kritikus, maupun konstruktor dalam perkuliahan dapat membantu dalam meningkatkan IPK anda. Namun aktif dalam perkuliahan bukan berarti tidak ada ukuran pastinya. Ukuran pasti keaktifan perkuliahan terletak pada proses perkuliahan dalam sebuah mata kuliah itu sendiri. Artinya jika anda ingin nilai IPK anda lebih tinggi, keaktifan perkuliahan tetap diperlukan meskipun bukan faktor dominan.

  1. Kehadiran (5-25%)

Selain penugasan dan keaktifan, kehadiran di kelas adalah hal yang juga diniliai dalam IPK walaupun tidak mutlak dalam beberapa kasus kecil. Ada beberapa dosen yang memberi kelonggaran mahasiswanya jika sudah melaksanakan tugas tertentu dan diizinkan untuk tidak mengikuti kuliah. Namun kasus semacam ini sebetulnya jarang, jadi anda perlu juga memperhatikan kehadiran anda dan peraturan di kelas. Karena kehadiran meskipun memegang porsi kecil, namun dapat menentukan nasib keseluruhan anda di kelas. Masih banyak saat ini mahasiswa mendapatkan IPK kecil hanya karena jarang di kelas atau sering tidak masuk. Alasan yang sebetulnya klasik nan sepele namun berakibat fatal pada kelancaran perkuliahan dan mempengaruhi IPK anda tentunya.

Cara Memperoleh IPK Tinggi

  1. Maksimalkan Penugasan dan Presentasi

Bagian ini biasanya mencakup lebih dari separuh nilai perkuliahan yang anda ikuti baik di mata kuliah teoritik maupun praktek. Bahkan ada beberapa kasus dimana dosen memberikan porsi lebih pada penugasan disamping keaktifan perkuliahan. Hal ini juga berlaku pada tugas UTS dan UAS yang biasanya memegang porsi besar dalam IPK perkuliahan. Artinya jika anda menguasa penugasan dan presentasi baik ketika kuliah maupun ujian tengah semeseter dan akhir, hal itu dapat menjamin setidaknya maksimal 50%-80% dari nilai IPK anda.

Namun tentu saja dibutuhkan usaha yang maksimal pula dalam penugasan. Apapun yang menjadi kriteria penugasan dan presentasi yang diinginkan dosen mata kuliah anda harus dipenuhi. Anda harus bisa menangkap tantangan yang diberikan pada saat perkuliahan dengan tepat. Hal ini penting dilakukan jika anda menginginkan IPK tinggi.

  1. Buat review Kuliah dengan Baik

Jika anda mendapatkan dosen yang berkutat seputar kepenulisan mengenai materi perkuliahan baik sebelum atau ketika perkuliahan, maka perhatikan pada poin ini. Literature Review biasaya diberikan dosen selain untuk melihat kemampuan dan pemahaman mahasiswa, disisi lain merupakan salah satu “pendongkrak” nilai anda di kelas. Hal ini dikarenakan dosen hanya akan melihat hasil pemahaman anda secara komprehensif.

Maka dari itulah jika anda ingin nilai IPK anda terdongkrak secara maksimal, buatlah review perkuliahan yang baik dari titik koma sampai cara berpikir logika anda. Panjangnya tulisan tidak akan berarti apa-apa jika isi review anda tidak terlihat lokus berpikir anda beserta dasar-dasarnya. Anda harus benar-benar detail jika ingin mendapatkan IPK yang baik melalui jalan satu ini.

  1. Keaktifan sebagai Korektor

Jika anda aktif dalam perkuliahan, sangat disarankan bahwa anda harus mengeksplorasi setiap mata kuliah yang diikuti. Untuk itulah menjadi korektor dalam perkuliahan lebih dibutuhkan. Keaktifan anda sebagai korektor atau bahkan kritikus perkuliahan selain dapat membantu anda dalam memahami perkuliahan, itu juga menunjukkan niat menuntut ilmu.

Keaktifan anda biasanya dinilai dari bobot komentar ataupun pertanyaan yang anda ajukan. Selain itu intensnya anda membuka pembicaraan atau perdebatan di kelas juga dapat menunjang penilaian. Biasaya dosen akan memberi poin plus bagi mahasiswa yang dapat membuka diskusi atau perdebatan di kelas.

  1. Kuasai Poin dan Inti Perkuliahan

Menguasai inti-inti dari perkuliahan memang tidak langsung menjamin IPK anda tinggi secara kumulatif. Namun menguasai inti perkuliahan dapat memudahkan anda untuk menunjang penugasan dan keaktifan anda di kelas. Itulah mengapa ada beberapa dosen pada mata kuliah teoritik cenderung menyodori anda buku dan jurnal penelitian. Hal ini dilakukan agar anda bukan hanya paham, namun dapat menerapkan dan menjelaskan konsep dengan tepat pada tugas kuliah berupa karya ataupun tulisan.

Hal ini juga berlaku ketika anda sudah menginjak UTS ataupun UAS yang menyumbang porsi IPK dominan. Bahkan jika anda menguasai inti perkuliahan, anda akan menjawab tugas tersebut lebih mudah dan justru mengeksplorasi jawaban dengan maksimal. Tentu saja hal ini bisa meningkatkan nilai IPK anda secara signifikan.

  1. Mintalah Tugas Tambahan (Apabila Anda Belum Puas dengan IPK yang Anda Dapatkan)

Jangan segan untuk melakukan hal satu ini. Banyak dosen yang terkadang memberi nilai seadanya dengan tujuan memancing mahasiswa supaya lebih baik. Meskipun cara ini terlihat “memaksa” namun anda dijamin akan lebih dihargai oleh dosen anda jika mengambil langkah ini.

Kasus semacam ini memang jarang sekali ditemui, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Beberapa dosen malah senang jika ada mahasiswa yang mau berusaha keras untuk menunjukkan hasil, tidak peduli seperti apa bentuk tugas yang diberikan. Meminta tugas atau meminta saran dosen sangat disarankan bagi anda yang mengincar nilai tertentu yang tentunya dapat mendongkrak IPK anda.

Pengertian Sistem Kredit Semester (SKS), Nilai dan Bobotnya

Sistem Kredit Semester atau SKS adalah satuan jumlah bobot mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa berdasarkan durasi waktu per minggunya. Sistem ini memungkinkan mahasiswa untuk mencapai perkuliahan efektif dalam masa studinya. Itulah mengapa mahasiswa diwajibkan untuk menempuh batas SKS tertentu untuk menyelesaikan masa studinya disamping mata kuliah wajib dan pilihan.

Selama 16 minggu perkuliahan, mahasiswa harus mengambil beberapa mata kuliah yang didalamnnya terdapat satuan jumlah bobot mata kuliah. Semakin banyak bobot jumlah SKS yang diambil, maka semakin banyak waktu perkuliahannya. Namun semakin banyak juga mata kuliah yang diambil, maka semakin cepat pula masa studi yang nantinya ditempuh. Artinya semakin banyak jumlah SKS yang diambil maka kemungkinan kelulusan bisa lebih cepat dan efektif.

Hal yang harus diperhatikan mahasiswa ketika mengambil mata kuliah adalah dengan memperhatikan jumlah bobot SKS-nya. Hal ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui seperti apa beban perkuliahan yang nantinya akan ditempuh. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan mahasiswa dalam menempuh masa studinya. Setiap mata kuliah memiliki jumlah bobot SKS yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan pihak fakultas dan jurusan. Oleh karena itu mahasiswa harus memperhatikan dengan saksama agar nantinya mahasiswa siap dengan mata kuliah yang akan diambil.

Jumlah Bobot dalam Sistem Kredit Semester (SKS)

Pada dasarnya bobot SKS diukur berdasarkan durasi perkuliahan. Satu SKS misalnya jika dihitung dalam bentuk satuan waktu berdurasi 50 menit. Hal ini juga berlaku pada kelipatannya meskipun untuk jumlah SKS yang tinggi (misalnya 4-6 SKS) biasanya tidak dihitung durasinya. Hal ini dikarenakan mata kuliah dengan SKS tinggi ukurannya adalah keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak tergantung pada durasinya.

Namun yang harus menjadi catatan adalah semakin besar SKS maka semakin besar pula bobot dan durasi perkuliahan. Hal ini bisa anda lihat pada mata kuliah berbobot 3 SKS yang biasanya terdiri atas mata kuliah berbasiskan pada teori induk ataupun praktikum. Hal ini juga berlaku pada mata kuliah lain yang memiliki bobot besar. Durasi perkuliahan juga lebih longgar dikarenakan pendalaman materi yang lebih komprehensif sehingga membutuhkan waktu lebih panjang dalam perkuliahan. Hal tersebut bisa anda lihat pada rincian bobot berikut ini:

  1. Mata Kuliah 1-2 SKS

Jika anda baru menginjak kuliah pertama atau maksimal pada semester tiga, maka anda akan sering menemui mata kuliah dengan bobot SKS ini. Ini dikarenakan mata kuliah 1 dan 2 SKS banyak berkutat pada mata kuliah penunjang teori atau berkisar pada topik perkuliahan terkini. Beban mata kuliah ini memang lebih ringan, namun penting dikarenakan mata kuliahnya yang merupakan fondasi teori.

Mata kuliah dengan bobot 1-2 SKS ini memiliki jam pengajaran sebesar 50 sampai 100 menit. Hal itu juga berlaku untuk penugasan per mata kuliah yang juga dihitung sama besarnya dengan durasi perkuliahan. Meskipun bobot dan durasinya terbilang pendek, namun tetap penting dikarenakan mata kuliahnya dapat dimanfaatkan sebagai landasan berpikir dan pengembangan teoritik mahasiswa. Beberapa mata kuliah yang masuk dalam kategori ini umumnya adalah teori, konsep dan topik permasalahan kontemporer.

  1. Mata Kuliah 3 SKS

Biasanya mata kuliah dengan bobot 3 SKS sudah akan anda temui di awal kuliah anda. Namun bebannya akan sangat terasa ketika anda sudah menginjak semester keempat sampai akhir semester. Mata kuliah dengan bobot 3 SKS ini akan anda temui di mata kuliah berbasis teori induk keilmuan, praktikum dan tingkat lanjut. Itulah mengapa mata kuliah 3 SKS dinilai lebih berbobot dan tugasnya lebih menantang bagi mahasiswa kebanyakan.

Mata kuliah berbobot 3 SKS ini biasanya memiliki durasi kuliah sepanjang dua setengah jam sampai tiga jam, sekali lagi tergantung kebijakan kampus maupun fakultas. Mata kuliah dengan bobot ini membuat mahasiswa dapat mengembangkan teori lanjutan, skill, dan praktek kerja. Mata kuliah yang masuk dalam kategori ini secara umum diantaranya adalah teknik, teori, produksi dan filsafat.

  1. Mata Kuliah 4 SKS

Sebetulnya penilaian magang atau kuliah kerja nyata bisa dibilang memiliki bobot jumlah kredit semester yang sama. Bobot mata kuliah 4 SKS ini jika dihitung secara durasi mata kuliahnya adalah setara dengan tiga jam perkuliahan. Namun karena keduanya merupakan mata kuliah berbasis praktikum, penghitungan semacam ini tidak diperlukan. Jelasnya mata kuliah ini dianggap terpenuhi apabila mahasiswa mengambil dan melaksanakan tugas yang diberikan pihak universitas maupun fakultas.

Mata kuliah dengan bobot ini bertujuan untuk pengembangan kemampuan kognitif mahasiswa terhadap lingkungan kerja, sosial maupun penelitian. Selain itu mata kuliah dengan bobot 4 SKS dirancang agar mahasiswa dapat secara adaptif mengembangkan keilmuan sebelumnya yang sudah dikuasai. Beberapa mata kuliah yang secara umum masuk kategori ini adalah kalkulus, kepenulisan proposal penelitian, magang, dan kuliah kerja nyata (KKN).

  1. Skripsi/Karya Akhir 6 SKS

Mata kuliah skripsi/karya pada dasarnya merupakan tugas wajib yang harus dijalankan mahasiswa pada tingkat akhir untuk menunjukkan bahwa mahasiswa memang sudah layak untuk diluluskan. Itulah mengapa bobot kredit semester ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan mata kuliah pada umumnya. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah dengan bobot ini selain melaksanakan tugas, juga dituntut secara intensif untuk melakukan bimbingan dengan dosen pengampunya.

Mata kuliah yang memiliki bobot paling besar ini dirancang untuk memacu mahasiswa pada level yang sesungguhnya, yaitu pemahaman mendalam akan suatu kejadian kausal atau fenomena. Selain itu mahasiswa dapat mengeksplorasi antara teori dan praktek secara intensif. Mata kuliah yang termasuk dalam bobot ini secara umum adalah skripsi dan karya akhir.

SKS Minimal dan Maksimal yang Harus Diambil

Pada setiap semester, mahasiswa diharuskan untuk mengambil setidaknya dalam jumlah normal adalah 21 SKS per semester. Hal ini langsung berlaku ketika anda menginjak pada semester awal. Selanjutnya bagi anda yang memiliki IPK lebih dari 3.50, maka anda diperbolehkan mengambil mata kuliah semester atas dengan bobot maksimal 24 SKS. Jika anda mengambil SKS kurang dari 21 SKS sebetulnya diperbolehkan. Akan tetapi hal tersebut dapat mempengaruhi durasi masa studi anda, sehingga bijaklah dalam mengambil bobot mata kuliah supaya masa studi anda normal adanya.

Mengapa Bobot Mata Kuliah Berbeda-beda?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa antara satu mata kuliah dengan lainnya memiliki beban masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda maksudnya. Itulah mengapa tidak ada dalam satu bentuk perkuliahan di suatu jurusan memiliki beban yang sama antar mata kuliahnya. Selain itu penentuan bobot mata kuliah dalam SKS juga ditentukan faktor lain seperti, jumlah total SKS keseluruhan sampai dinyatakan lulus, sasaran perkuliahan sampai beban maksimal mata kuliah. 

Hal inilah yang menjadikan antara satu jurusan harus menentukan mana mata kuliah yang diprioritaskan tinggi, menengah dan lanjutan. Oleh karena faktor-faktor itulah bobot mata kuliah menjadi berbeda-beda dan tidak sama antara satu dengan lainnya. Hal itu belum termasuk keputusan di tingkat jurusan, fakultas maupun rektorat dalam mengatur bobot mata kuliah tertentu, yang juga memperhatikan faktor-faktor tadi.

Namun pada dasarnya satuan kredit semester (SKS) ini dibuat untuk membekali mahasiswa kemampuan tertentu yang menjadi sasaran tujuan perkuliahan. Sebagai mahasiswa anda hanya perlu untuk memperhatikan bobot mata kuliah tersebut agar anda siap dengan mata kuliah yang diambil. Karena itu dapat mempengaruhi indeks penilaian kumulatif (IPK) anda selama berkuliah disamping beban total jumlah mata kuliah per semester.