Cara Membuat Thesis

Jika anda adalah mahasiswa S2, maka membuat tesis sebagai karya akhir kuliah anda menjadi hukum wajib. Tesis pada dasarnya sama dengan karya akademik lainnya seperti skripsi atau jurnal. Namun letak perbedaan tesis adalah kedalaman pemahaman teori yang lebih diperdalam ketimbang skripsi pada S1. Sebagai gambarannya ketika S1 kita menggunakan teori untuk beranalisis, namun pada tesis kita tidak hanya beranalisis namun juga menjawab hubungan dan adaptasi teori dalam penelitian.

Perbedaan lain yang mendasar dari sebuah tesis adalah pertanyaan penelitian pada rumusan masalahnya. Pada skripsi, pertanyaan yang paling mendasar adalah berkisar pada how (bagaimana) yang menunjukkan bahwa skripsi lebih digunakan untuk menjawab sesuatu yang deskriptif atau menjelaskan alur suatu fenomena. Sementara dalam tesis terdiri atas dua pertanyaan yaitu how (bagaimana), dan why (mengapa) yang menunjukkan bukan hanya alur fenomena, melainkan juga menjawab mengapa sebuah fenomena bisa terjadi atau penyebabnya. Itulah mengapa bisa dikatakan tesis adalah versi lebih lanjut dari sebuah skripsi.

Karena perbedaan hal diatas tersebut mungkin anda ada yang masih bingung bagaimana cara atau alur pembuatan tesis. Pada dasarnya ketika anda berkonsultasi dengan dosen pembimbing hal tersebut bisa secara langsung dilakukan. Namun mungkin anda ingin mengetahui terlebih dahulu bagaimana dasar-dasar pembuatan tesis. Untuk itulah dalam tulisan ini akan dijelaskan dasar-dasar pembuatan tesis. Berikut ini cara membuat tesis secara umum yang harus anda ketahui:  

Tentukan Topik Penelitian

Sebagaimana pembuatan skripsi, pembuatan tesis juga mengharuskan anda menentukan terlebih dahulu topik atau tema penelitian yang akan anda buat. Anda bisa mencarinya berdasarkan penelitian terdahulu dalam tesis atau jurnal. Setelah topik ditentukan barulah anda melangkah untuk membuat dasar penelitian.

Jika anda tetap bingung dengan langkah ini, akan lebih baik ada tuangkan topik tersebut dalam bentuk pon per poin. Selanjutnya anda bisa memilih salah satu topik yang menurut anda menarik untuk dijadikan penelitian.

Setelah itu tentukan objek penelitian yang hendak anda jadikan penelitian. Hubungi terlebih dahulu objek penelitian tersebut untuk memastikan bahwa anda akan mendapatkan data seperti wawancara, data pribadi atau semacamnya. Hal ini diperlukan agar ketika penelitian berjalan, anda tidak lagi disibukkan dengan pencarian yang tidak diperlukan atau bahkan harus ganti judul penelitian.

Terakhir konsultasikan dengan dosen pembimbing tentang topik penelitian anda. Saran dan masukan dosen pembimbing diperlukan sebelum anda melakukan penelitian agar anda mengetahui beban penelitian anda. Jika dosen menolak topik penelitian anda, bukan berarti itu buruk. Barangkali ada satu dua topik yang menurut dosen anda tidak menarik atau terlalu sering topik itu berjalan dengan penelitian yang sama. Jadi pastikan topik penelitian anda menarik dan selalu berkonsultasi dengan dosen pembimbing tesis anda.

Membuat Proposal Penelitian (Bab I)

Setelah anda memiliki topik penelitian, maka langkah selanjutnya adalah membuat proposal penelitian. Pada bagian ini prakteknya sama dengan saat anda membuat skripsi, namun terdapat perbedaan yang harus anda ketahui. Tesis pada dasarnya menguji pemahaman anda terhadap teori dan konsep lebih lanjut. Artinya anda harus benar-benar memperhatikan bagaimana logika penelitian anda berjalan, sehingga antara latar belakang dengan kerangka teori harus bisa anda paparkan secara jelas dan menyambung. Jadi perhatikan bagaimana anda membuat latar belakang dan kerangka teori yang nantinya anda masukkan dalam penelitian.

  1. Judul Penelitian

Buatlah judul penelitian berdasarkan topik yang sudah anda bicarakan dengan dosen pembimbing. Formatnya tetap menggunakan subjek dan objek penelitian, namun karena ini adalah tesis maka anda diberi kebebasan untuk menentukan judul penelitian anda sendiri. Pastikan judul yang anda pilih juga sesuai dengan apa yang disarankan oleh dosen pembimbing anda.

  1. Latar Belakang

Tulislah fenomena atau rujukan penelitian sebelumnya dalam bagian ini. Cantumkan juga sejumlah referensi dalam penelitian sebelumnya mengenai topik penelitian yang sama atau dekat dengan penelitian anda.

  1. Rumusan Masalah

Setelah anda memaparkan latar belakang penelitian anda dengan jelas, maka selanjutnya tulislah pertanyaan penelitian anda.. Dalam tesis, pertanyaan penelitian harus menjawab sebab kejadian, maka format pertanyaan “Bagaimana” (How) dan “Mengapa” (Why) biasanya diwajibkan. Setidaknya dua format pertanyaan tersebut harus ada dan diperbolehkan membuat pertanyaan penelitian lain dengan format serupa dan masih terdapat hubungannya dengan topik penelitian anda.

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Pada dasarnya tujuan dan manfaat penelitian ditulis secara terpisah. Tujuan penelitian adalah harapan yang akan dicapai penelitian itu sendiri. Apakah anda berharap dapat menemukan jawaban atas penelitian anda, atau anda ingin menemukan suatu temuan yang berguna maka tulislah pada bagian ini.

Sedangkan untuk manfaat penelitian tulislah mengenai manfaat teoritis dan praktis dari penelitian anda. Manfaat teoritis adalah kegunaan penelitian ini dalam menjelaskan sebuah fenomena atau hipotesis. Sedangkan manfaat praktis adalah manfaat penelitian mengenai kegunaan penunjang, apakah menambah keragaman penelitian atau ingin mengungkapkan apa yang mungkin kurang dari penelitian sebelumnya.

  1. Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini anda dapat menuliskan penelitian yang digunakan sebagai rujukan pertama penelitian anda. Anda harus memastikan bahwa tinjauan pustaka adalah rujukan penelitian dan anda mengambil sesuatu yang tidak dimiliki oleh penelitian sebelumnya. Anda harus mencari minimal tiga rujukan penelitian seperti tesis, jurnal atau disertasi. Anda harus membuktikan dan menyatakan bahwa penelitian anda memiliki alur logika yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Selain itu pastikan juga bahwa penelitian yang anda rujuk memiliki usia tidak lebih dari 10 tahun. Hal ini menandakan bahwa tesis anda memiliki keilmuan yang up to date dan topiknya masih diperbincangkan sampai hari ini dengan hadirnya penelitian dalam kurun waktu tersebut.

  1. Kerangka Teori dan Konsep

Ketika anda sudah memilih topik dan menuliskan referensi pada bagian tinjauan pustaka, maka selanjutnya adalah menuliskan kerangka teori dan konsep. Karena anda menulis penelitian dalam bentuk tesis, maka anda dibebaskan untuk memilih teori dan konsep sesuai dengan penelitian anda. Tidak ada batasan mengenai teori dan konsep yang digunakan, asalkan teori dan konsep tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena yang anda teliti. Opsi ini juga membolehkan anda memodifikasi teori atau konsep yang tidak perlu jika nantinya tesis sudah jadi.

Anda bisa menuliskan teori dan konsep pada penelitian sebelumnya, namun dengan pendekatan logis anda sendiri. Selain itu ada baiknya anda menuliskan satu teori untuk diturunkan menjadi metode penelitian. Jadi secara umum anda bisa menuliskan dua bentuk teori dan konsep, satu untuk diturunkan menjadi analisis dan satu lagi untuk metode penelitian.

  1. Sistematika Penalaran

Pada bagian ini anda bisa menambahkan bagaimana konsep anda secara umum mengenai penelitian anda. Hal ini cukup umum ada dalam setiap tesis untuk memastikan bahwa penelitian anda memiliki alur logika yang berbeda dari penelitian lain. Anda bisa menuliskan alur penelitian anda dengan gambar mapping yang isinya kurang lebih bagaimana anda memahami penelitian dalam tesis anda. Hal ini juga berfungsi bagi dosen pembimbing anda dan penguji tesis dikala mereka mungkin masih bingung dalam memahami alur berpikir anda.

  1. Metode Penelitian

Pada bagian ini seperti pada skripsi yaitu menuliskan subjek dan objek penelitian, sifat penelitian (kuantitatif, kualitatif atau mix method), analisis data serta batasan penelitian anda dalam tesis. Anda juga bisa menambahkan defenisi operasional untuk membuat defenisi yang mudah bagi yang nantinya membaca tesis anda agar apa yang akan anda cari dalam tesis anda lebih terarah.

  1. Sistematika Pembahasan

Terakhir lengkapi proposal anda atau Bab I ini dengan sistematika penulisan tesis anda. Tuliskan judul dan sub judul pembahasan anda dengan konsep poin per poin.

Kronologi Fenomena dan Eksplorasi Teori Terdahulu (Bab II)

Perbedaan lainnya antara skripsi dengan tesis adalah adanya bab ini. Jika anda mengambil skripsi dengan metodologi kuantitatif mungkin hal ini tidaklah mengagetkan. Sebab pada bab ini (Bab II) lebih banyak berkutat pada teori dan perkembangannya. Sedangkan pada tesis biasanya berisi mengenai permasalahan objek penelitian itu sendiri. Itulah mengapa dalam tesis pada bab ini akan lebih banyak bereksplorasi mengenai fenomena yang terjadi pada objek penelitian.

Anda bisa menuliskan riwayat mengenai sebuah fenomena atau konsep yang sudah anda tulis pada latar belakang penelitian atau kerangka teori. Anda bisa menuliskannya poin per poin dengan sub bab menyesuaikan apa yang akan anda tulis. Pada bagian ini pada dasarnya menguji kedalaman anda terhadap suatu fenomena dan dihubungkan dengan teori.

Profil Objek Penelitian (Bab III)

Pada bagian ini anda dapat menuliskan sejarah mengenai tempat atau objek penelitian mulai dari kemunculannya hingga saat ini. Anda juga bisa menambahkan problematika mengenai objek penelitian tersebut.

Analisis dan Pembahasan (Bab IV)

  1. Analisis

Pada bagian ini adalah tugas anda untuk membedah data yang sudah anda dapatkan berdasarkan analisis data yang digunakan. Ada beberapa jenis penulisan analisis, mulai dari murni pada sajian data sampai langsung dikuatkan dengan teori. Akan lebih baik jika anda berkonsultasi dengan dosen pembimbing anda mengenai gaya tulisan yang diperkenankan olehnya. Berikan juga kesimpulan singkat pada setiap analisis yang anda paparkan dalam tulisan tesis anda.

  1. Pembahasan dan Komparasi Penelitian Terdahulu

Bagian inilah semua intisari tesis anda dikomparasikan dengan teori dan konsep untuk menemukan kesamaan, perbedaan dan bahkan keunikan temuan. Tujuannya yaitu untuk menguji apakah teori dan konsep yang anda pakai masih relevan, perlu modifikasi atau bahkan membantahnya. Tentu saja anda harus benar-benar mendasarkan semua itu berdasarkan data yang sudah anda bedah tadi pada bagian analisis. Jika sudah buatlah asumsi penelitian anda yang secara garis besar dapat dijelaskan dengan logis.

Penutup (Bab V)

  1. Kesimpulan

Jika anda sudah membuat analisis dan pembahasan, maka anda harus melihat kembali rumusan masalah yang sudah anda buat pada Bab I. Setelah itu jawablah pada bagian kesimpulan dengan mendasarkan pembahasan yang sudah anda buat asumsinya tadi. Tuliskan saja sesuai dengan rumusan masalah anda

  1. Saran dan Kritik Penelitian

Bagian ini sebetulnya adalah opsional bagi penulisan tesis. Namun satu hal yang paling penting dari tesis di bagian ini adalah saran penelitian. Anda harus menuliskan apa yang seharusnya dilakukan pada penelitian selanjutnya. Selain itu anda bisa menuliskan kekurangan penelitian jika dirasa perlu (opsional).

Daftar Pustaka

Tulislah semua referensi yang anda gunakan mulai dari latar belakang sampai kesimpulan pada bagian ini. Format yang disediakan menyesuaikan format APA Style.

Lampiran

Pada bagian ini lampirkan data yang digunakan dalam penelitian. Jika data penelitian anda dalam bentuk digital, maka lampirkan dalam bentuk CD-ROM.

Cara Membuat Proposal Skripsi

Ketika anda sudah memasuki semester akhir, maka artinya anda sudah harus segera bersiap-siap untuk menyambut tugas akhir yang harus anda kerjakan sebelum lepas dari kampus. Saat ini ada dua format pengujian yang digunakan untuk mengukur kompetensi akhir mahasiswa, yaitu tugas akhir dan skripsi. Utamanya yang kami sebutkan terkahir menjadi salah satu tugas akhir yang sifatnya merata dan telah menjjadi standar umum utamanya untuk mahasiswa S1.

Skripsi sendiri merupakan sebuah karya ilmiah yang lebih banyak merujuk pada penjelasan atas sebuah fenomena. Dalam skripsi anda dituntut untuk dapat menjelaskan suatu fenomena yang terjadi pada objek penelitian. Namun terdapat proses untuk memulai pembuatan skripsi yang dinamakan proposal skripsi. Proposal skripsi adalah sebuah pengajuan penelitian yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan apakah sebuah judul dan topik penelitiannya dapat diterima sehingga dilanjutkan dengan pembuatan skripsi secara penuh. Nantinya proposal skripsi yang dibuat masih harus diujikan dalam acara seminar proposal untuk menguji logika penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa.

Dalam pembuatan proposal skripsi dibutuhkan berbagai upaya untuk pembuatannya, termasuk menentukan detail-detail penelitian yang nantinya digunakan. Namun pada dasarnya anda bisa melakukannya dengan tetap berkonsultasi dengan dosen pembimbing skripsi anda. Anda tetap bisa membuatnya dengan memperhatikan arahan dari dosen anda. Selebihnya anda harus mencoba untuk merangkai bagian per bagian dalam pembuatan proposal skripsi. Berikut langkah-langkah yang harus anda lalui untuk membuat sebuah proposal skripsi:

  1. Menentukan Topik Skripsi

Tentukan terlebih dahulu tema penelitian anda atau yang sering disebut topik. Topik dalam konteks skripsi merupakan isu utama yang nantinya hendak anda teliti bersamaan dengan objek penelitian anda. Ibarat anda akan menggambar, maka anda sudah punya rencana apa yang akan anda gambar begitu juga skripsi. Anda bisa mencari topik dari penelitian sebelumnya berupa skripsi, jurnal, tesis dan disertasi. Setelah itu anda konkretkan topik yang ingin anda ambil, lalu anda tinggal mencari objek penelitian untuk mendapatkan data penelitian nantinya.

  1. Judul Skripsi

Hal kedua yang harus anda lakukan adalah membuat sebuah judul penelitian yang hendak anda lakukan. Judul penelitian biasanya terdiri atas subjek (topik penelitian) dan objek (tempat atau sumber data utama dalam penelitian). Pastikan bahwa anda membuatnya berdasarkan format tersebut. Anda juga bisa menambahkan objek penelitian apabila memang penelitian anda ingin membandingkan kedua objek dalam satu penelitian. Anda juga bisa meminta bantuan dosen pembimbing skripsi anda untuk menolong anda dalam menyusun judul skripsi anda.

  1. Membuat Latar Belakang

Jika anda sudah membuat judul, maka selanjutnya anda harus membuat pengantar dimana hal tersebut merupakan dasar skripsi yang hendak anda buat. Inilah yang dinamakan sebagai latar belakang, dimana anda harus meletakkan dasar penelitian anda dalam bentuk penjelasan. Anda bisa memulainya dari fenomena lalu ke kasus konkret untuk membuat latar belakang ini.

  1. Rumusan Masalah

Pada bagian ini anda diharuskan untuk menentukan pertanyaan penelitian untuk menjawab tantangan dalam penelitian anda. Dalam skripsi, penjelasan deskriptif lebih diutamakan sehingga pertanyaan bagaimana (how) adalah yang paling umum dituliskan. Anda bisa menuliskan dua sampai tiga pertanyaan untuk rumusan masalah ini.

  1. Tujuan

Pada dasarnya setiap penelitian memiliki maksud berupa tujuan dan manfaat ketika ditulis. Namun anda harus berhati-hati dalam menuliskan hal ini, dikarenakan tujuan penelitian biasanya lebih dari sekedar “mengetahui” namun juga eksplorasi, kritik dan sejumlah fungsi lain dalam paradigma penelitian. Jadi anda perlu merumuskan tujuan penelitian berdasarkan apa yang hendak anda cari dalam sebuah penelitian. 

  1. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian pada dasarnya merupakan nilai yang ditawarkan dalam sebuah penelitian. Artinya penelitian pasti mengarah kepada perbaikan pemahaman, menambah variasi keilmuan, atau bisa juga untuk menjadi pemicu bagi siapapun untuk melakukan penyelidikan menyeluruh agar suatu keilmuan relevan dan berkembang sesuai perkembangan zaman. Itulah mengapa manfaat penelitian terbagi menjadi dua, yaitu secara teoritis (manfaat bagi perkembangan teori dan konsep) maupun praktis (manfaat yang dirasakan secara nyata). Pada bagian ini anda dapat menuliskan manfaat secara teoritis dan apa yang menjadi harapan bagi penelitian anda.

  1. Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini anda harus menuliskan penelitian utama yang anda jadikan rujukan skripsi untuk mengetahui apa yang menjadi perbedaan antara penelitian anda dan yang dilakukan sebelumnya. Setiap penelitian terdahulu memiliki tujuan yang mungkin berbeda dengan apa yang hendak anda tulis dalam skripsi. Anda bisa menuliskan perbedaan-perbedaan tersebut pada bagian ini dengan minimal menulis tiga penelitian yang mirip atau hampir sama dengan yang anda kerjakan.

  1. Kerangka Teori

Bagian ini anda harus menuliskan teori yang hendak anda gunakan dalam menjelaskan temuan data pada bagian pembahasan. Fungsi dari kerangka teori ini adalah untuk menjelaskan apa yang anda pikirkan mengenai penelitian ini beserta dengan pemahaman anda terhadap sebuah teori atau konsep. Anda bisa menuliskan teori beserta konsep sebagai pelengkap dari teori. Anda juga bisa menuliskan teori dari digunakan dalam penelitian sebelumnya sebagai perbandingan. Anda juga harus menjelaskan hubungan teori dan konsep, apakah keduanya berhubungan atau hanya untuk mempermudah penjelasan. Selanjutnya anda bisa berkonsultasi dengan dosen pembimbing untuk menyusun teori dan konsep.

  1. Metode Penelitian

Pada bagian ini anda diharuskan untuk menentukan cara dan jenis dari penelitian yang akan anda bedah. Secara umum penelitian terbagi menjadi dua jenis penelitian yaitu kualitatif atau kuantitatif. Namun analisis data sangat bervariasi tergantung seperti apa setiap keilmuan dalam menggunakan teknik analisis datanya. Begitu juga sifat penelitiannya apakah deskriptif, eksploratif atau naratif. Anda juga harus menentukan detail penelitian pada bagian ini seperti subjek dan objek penelitian, teknik pengumpulan data (wawancara,survey, kuesioner, atau data digital) analisis data, dan sajian data. Artinya anda harus terlebih dahulu memahami metodologi penelitian beserta cara-cara pemilihannya supaya skripsi anda dapat terdeskripsikan dengan baik.

  1. Sistematika Pembahasan

Terakhir dalam proposal anda harus memiliki rencana bagaimana susunan skripsi yang hendak anda tulis seluruhnya. Anda tinggal menuliskan apa saja yang akan anda tulis dari awal hingga akhir skripsi secara singkat pada bagian ini.

Saran

Penyusunan proposal skripsi biasanya membutuhkan beberapa hal teknis yang harus anda perhatikan jika anda tidak ingin ada kesalahan yang tidak perlu untuk dilakukan. Terkadang hal-hal semacam itu menjadi masalah tersendiri dan mempengaruhi penyusunan proposal. Oleh karena itu ada beberapa hal yang disarankan untuk anda lakukan dalam menyusun proposal skripsi:

  1. Sangat dimungkinkan bahwa judul skripsi anda baik dalam proposal atau ketika sudah jadi penuh nantinya berubah. Hal ini dikarenakan penyesuaian dan revisi yang dilakukan terus-menerus supaya tulisan menjadi lebih baik. Anda harus telaten dalam mengikuti dan mempertimbangkan setiap masukan dalam proposal skripsi anda. Selain itu perlu adanya judul yang baik dengan menentukan subjek dan objek yang tepat agar proposal skripsi lebih diterima.
  2. Dalam skripsi penilaian yang paling umum adalah kerapian tulisan (meliputi penulisan referensi sampai keaslian tulisan) dan logika penelitian. Oleh karena itulah dua hal tersebut harus menjadi perhatian utama mahasiswa dalam penyusunan proposal skripsi hingga nantinya selesai.
  3. Hendaknya penulisan proposal harus memperhatikan hubungan antar satu paragraf dengan paragraf lainnya serta antar bagian dengan bagian lainnya. Terutama pada bagian kerangka teori dan konsep dimana keduanya merupakan satu kesatuan yang berhubungan. Usahakan anda dapat menjabarkan teori dan konsep secara bersambung sesuai dengan cara berpikir dan pemahaman anda.
  4. Setiap dosen pembimbing skripsi biasanya memiliki gaya tulisan berbeda-beda dengan penekanan yang juga beragam. Ada baiknya anda berkonsultasi secara intens dengan dosen pembimbing skripsi tentang proposal skripsi yang anda buat. Hal ini jelas membantu anda dalam menyusun proposal skripsi sebelum nantinya diseminarkan agar hasilnya dapat maksimal sehingga anda bisa melanjutkan kepenulisan skripsi anda hingga akhir.

Cara Membuat Latar Belakang Penelitian

Jika anda membuat skripsi, tesis, jurnal, disertasi atau bahkan buku maka pastilah dimulai dari sebuah permasalahan. Tanpanya mustahil karya ilmiah dibuat atau bahkan tanpa tujuan sama sekali. Kenyataannya setiap karya ilmiah pasti memiliki dasar penulisan yang menjelaskan suatu kejadian ataupun anomali yang mungkin terjadi baik dalam ilmu pengetahuan, sosial, hukum pasti bahkan masyarakat sendiri. Itulah mengapa penelitian serta karya ilmiah lahir untuk menawab tantangan atas sebuah masalah atau pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa terjawab. Bahkan tidak jarang penelitian justru berangkat dari permasalahan sebelumnya yang gagal dijelaskan namun memiliki kesamaan pada dasar penulisannya. Setiap dasar penulisan tersebut terejawentahkan dalam bentuk latar belakang penelitian.

Latar belakang penelitian yang merupakan dasar penelitian otomatis menjadikannya sebagai titik penting dari penelitian itu sendiri. Sebuah penelitian harus berpijak terhadap apa yang mendahuluinya, entah itu sebuah studi, fenomena, kasus dan lain sebagainya yang menyebabkan sebuah penelitian harus ditulis. Selain itu latar belakang penelitian bukan hanya sebagai dasar pijakan penelitian, namun juga sebagai penjelas penting bagi setiap pembacanya. Pembaca karya ilmiah yang anda buat akan secara otomatis mengarahkan pandangannya terlebih dahulu pada latar belakang penelitian dikarenakan nilai pentingnya ada pada bagian tersebut. Itulah mengapa dalam beberapa hal latar belakang penelitian mendapatkan porsi lebih dari penilaian karya ilmiah. Tanpanya ilmu pengetahuan menjadi semu untuk dipelajari, apalagi untuk memahami arti penting dari penelitian tersebut.

Artinya jika anda ingin bahwa penelitian anda memang penting untuk dilakukan dan dapat menjelaskan sesuatu, anda harus menjelaskannya dengan baik pada bagian ini. Anda harus banyak bereksplorasi menemukan kata dan logika yang tepat ketika menuliskan dasar penelitian anda pada latar belakang penelitian. Dengan begitu pembaca penelitian anda menjadi tertarik untuk mempelajari dan mendalami karya anda. Selain itu ibarat sebuah jendela, latar belakang penelitian juga merupakan bukan hanya sebagai pembuka namun juga nantinya diharapkan dapat memberi pencerahan bagi orang yang membaca penelitian anda. Hal ini berlaku secara umum baik anda mengerjakan skripsi sampai disertasi, maupun dari karya ilmiah sampai buku. Oleh karena itulah setidaknya anda harus belajar membuat latar belakang pendidikan yang baik dan efektif.

Cara Membuat Latar Belakang Penelitian

Untuk menulis latar belakang pada dasarnya tergantung dari pengalaman anda ketika menulis. Anda tidak bisa menyebutnya mudah bagi yang sudah bisa menulis,namun juga tidak bisa dikatakan sulit bagi yang mungkin masih perlu belajar menulis. Anda harus mengetahui bahwa latar belakang penelitian bukanlah didasarkan pada cerita rakyat atau novel non-fiksi, melainkan suatu kejadian objektif yang secara teori bisa diulangi dan dibuktikan secara ilmiah. Itulah mengapa bahasa dalam latar belakang cenderung bergaya formal dan dalam beberapa hal tidak bertele-tele meskipun tetap membutuhkan ritme penulisan. Berikut cara membuat latar belakang penelitian secara umum:

  1. Menulis Fenomena, bukan Kasus

Suatu kejadian pasti terdapat kecenderungan tertentu entah menjadi aneh, unik, berlainan, bertentangan ataupun berbalik seperti deja vu. Hal inilah yang dinamakan fenomena, yaitu kecenderungan atas suatu kejadian atau keadaan yang telah terjadi. Penulisan fenomena merupakan dasar ilmiah dikarenakan sifatnya yang bisa terulang, dijelaskan dan nantinya dicari penyebabnya dalam sebuah penelitian. Anda bisa menuliskannya seperti sebuah kronologi kejadian dan respon atas suatu kejadian.

Jadi yang pertama kali anda tulis dalam latar belakang penelitian bukan kasusnya, melainkan kecenderungan atas suatu kejadian tersebut. Anda tetap bisa menuliskan kasus yang ada, namun harus dibarengi dengan kecenderungan atas suatu kejadian. Karena pada dasarnya anda nantinya harus bisa menjelaskan fenomena tersebut dalam konteks kasus yang anda tulis dalam karya ilmiah. Oleh karena itulah anda harus menekankan penulisan fenomena dalam latar belakang penelitian.

  1. Bisa Juga dari Kelemahan Studi Sebelumnya

Penulisan latar belakang juga bisa dimulai dari kelemahan studi sebelumnya, utamanya jika anda ingin membuat perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Kelemahan studi sebelumnya harus anda paparkan dengan perbandingan analisis dan asumsi. Biasanya hal ini digunakan dalam rangka membantah penelitian sebelumnya atau berusaha memaparkan sudut pandang lain dalam penelitian. Namun ketika anda memang ingin menulis dari kelemahan studi sebelumnya, anda harus memperhatikan terlebih dahulu studi yang ingin anda ambil supaya jelas apa yang berusaha anda lengkapi dari penelitian yang anda lakukan. Sehingga studi anda lebih “berisi” dan berguna untuk menjawab kelemahan penelitian sebelumnya.

Untuk melakukan hal ini, anda harus menjelaskan terlebih dahulu studi sebelumnya yang telah dipaparkan beserta asumsi teori yang dipakai. Lalu anda bisa menggunakan objek penelitian yang sama, atau dengan kasus lain yang memiliki kronologi fenomena yang sama sebagai pembanding. Pada titik perbandingan itulah anda lalu memaparkan dapat memaparkan kelemahan penelitian sebelumnya dan apa yang akan anda cari dalam penelitian anda.

  1. Kasus atau Objek Penelitian

Setelah itu anda bisa menuliskan kejadian yang terjadi baik kejadian singkat maupun versi beruntunnya. Penulisan kasus biasanya lebih utama jika dijelaskan secara ringkas dan poin menarik apa yang ada dalam kasus tersebut. Caranya anda tinggal menuliskan dimana, kapan dan apa yang terjadi dalam sebuah kejadian. Tambahan data kronologis biasanya juga bisa digunakan terutama untuk penelitian tingkat lanjut seperti dalam tesis atau disertasi.

Bisa juga anda menjelaskan terlebih dahulu kasus dalam sebuah latar belakang, namun harus dibarengi dengan fenomena atau kecenderungan kejadiannya. Ingat, anda pada dasarnya harus mengeksplorasi apa yang bisa diulang, bukan detail kejadian. Jadi pastikan anda menulis kasus dalam konteks terhubung dengan fenomena, baik fenomena baru ataupun sudah lama namun dengan bentuk yang berbeda. Hal itu lebih memudahkan anda ketimbang anda menuliskan sesuatu yang abstrak di latar belakang penelitian.

  1. Asumsi Peneliti

Jika anda sudah bisa menghubungkan fenomena dan kasus, maka yang anda lakukan selanjutnya adalah membuat asumsi. Asumsi adalah pendapat yang didasarkan pada kejadian yang nantinya bisa digunakan sebagai dasar pencarian atau rumusan masalah dalam sebuah penelitian. Asumsi ini bisa dikatakan merupakan pendapat anda secara pribadi baik subjektif maupun objektif, namun harus didasarkan pada kejadian atau data.

Caranya adalah anda paparkan pendapat anda dalam kejadian itu layaknya sebuah argumentasi umum beserta dengan kejadian atau data yang ada. Bisa juga anda tuliskan berdasarkan perbandingan fenomena yang terjadi dan diambil kesimpulannya secara singkat. Asumsi peneliti pada dasarnya diperbolehkan dalam penelitian selama didasarkan pada kedua hal tersebut (fenomena dan data). Selain itu gunakanlah asumsi penelitian yang efektif dan efisien agar tidak membingungkan bagi pembaca karya ilmiah anda.

  1. Apa yang hendak dicari dalam Penelitian

Terakhir, anda tinggal menuliskan apa yang hendak anda cari dalam latar belakang penelitian anda. Jelasnya anda dalam sebuah penelitian harus menetapkan apakah anda hendak menemukan sesuatu, membantahnya melalui tulisan ilmiah anda atau menemukan kebenaran lainnya. Hal ini nantinya menjadi dasar untuk merumuskan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian secara runtut.

Caranya anda bisa menyatakan secara khusus harapan dari penelitian ini. Bisa juga secara langsung anda nyatakan pencarian yang belum dilakukan pada penelitian sebelumnya beserta potensi temuan anda terhadap ilmu pengetahuan nantinya. Anda bisa juga menuliskan secara gamblang letak perbedaan-perbedaan penelitian anda dan harapan kontribusi dari penelitian yang anda lakukan. Hal ini bukan hanya akan membantu anda dalam merumuskan pertanyaan penelitian namun juga batasan penelitian yang anda lakukan nantinya.

Pengertian Tri Dharma Perguruan Tinggi

Setiap perguruan tinggi baik akademi, institut sampai universitas memiliki tujuan tertentu yang secara umum harus dijalankan. Perguruan tinggi bukanlah sekedar lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada level papan atas, namun juga harus dapat menjawab tantangan. Baik fenomena, kasus, kejadian ataupun perkembangan masyarakat harus dijawab, dipecahkan dan dikembangkan.

Hal tersebut terejawentahkan dalam bentuk pokok-pokok yang disebut dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Tridharma Perguruan Tinggi merupakan sebuah pokok penting apa yang menjadi dasar pijakan baik universitas, akademi maupun institut tinggi dalam pendiriannya. Praktisnya adalah perguruan tinggi tidak hanya sekedar menggelar pendidikan tinggi saja namun juga melakukan serangkaian kegiatan yang secara terus menerus dapat disempurnakan dan diaplikasikan. Hal itulah yang menjadi latar belakang pendirian sebuah perguruan tinggi.

Komitmen perguruan tinggi dalam penyelenggaraannya inilah yang lalu secara praktis dirangkum dalam Tridharma Perguruan tinggi. Adanya Tridharma Perguruan Tinggi ini menjadikan dunia akademis memiliki arah dan tujuan yang jelas mengapa sebuah universitas didirikan. Hal ini juga menjadi jawaban paling mendasar apa yang membedakan penyelenggaraan perguruan tinggi jika dibandingkan dengan pendidikan dasar atau menengah.

Apa Itu Tridharma Perguruan Tinggi?

Sebuah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta tidaklah didirikan atas dasar kebutuhan saja, namun juga menjawab aspek penting dalam kehidupan yang begitu kompleks. Oleh karena itulah baik secara tersirat maupun esensi dari sebuah perguruan tinggi haruslah mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam Tridharma Perguruan Tinggi.

Sesuai namanya, Tridharma Perguruan Tinggi terdapat tiga pokok yang harus dijalankan oleh perguruan tinggi. Tiga pokok tersebut meliputi pendidikan (pengajaran), penelitian, dan pengabdian masyarakat. Beberapa istilah dalam pokok-pokok tersebut biasanya memiliki penafsiran berbeda antar lembaga pendidikan tinggi, namun memiliki tujuan sama dalam mengadakan dan mengembangkan perguruan tinggi. Dalam prakteknya Tridharma Perguruan Tinggi ini dapat dijalankan siapa saja dalam sivitas akademika yang artinya bukan hanya dosen atau peneliti saja, namun juga oleh mahasiswa. Berikut tiga nilai dalam Tridharma Perguruan Tinggi:

  1. Pendidikan

Dalam Tridharma Perguruan Tinggi, pendidikan mendapatkan tempat utama yang harus dipenuhi baik oleh seluruh sivitas akademika baik dosen, peneliti maupun mahasiswa. Tanpa pendidikan tidak ada ilmu yang bisa diteruskan, diaplikasikan atau bahkan dikembangkan. Oleh karena itulah pendidikan atau perkuliahan wajib dijalankan oleh sebuah perguruan tinggi untuk melanjutkan keilmuan beserta tujuan dan kegunanaannya.

Pendidikan dalam tridharma perguruan tinggi juga bukan hanya dimaknai sebagai sebuah pelajaran semata, akan tetapi juga dimaknai sebagai filosofi perguruan tinggi. Sejak pertama kali perguruan tinggi didirikan maka disitulah keilmuan berpijak dan meneruskan langkahnya. Tugas ini tidak akan pernah selesai hanya oleh seseorang, namun juga oleh generasi selanjutnya. Bahkan pendidikan sebagai instrumen paling penting bagi ilmu pengetahuan berjalan sebagaimana bumi berputar alias tidak berhenti untuk berputar. Artinya pendidikan memiliki berbagai hal yang bisa dimanfaatkan baik objektif maupun esensial.  

Itulah mengapa dalam Tridharma perguruan tinggi pendidikan sangatlah penting demi bukan hanya keberlangsungan keilmuan namun juga kemanfaatan yang besar bagi manusia. Kita tidak bisa mendapatkan ilmu hanya berdasarkan dari ilham semata, namun juga secara objektif harus bisa dibuktikan dan dijelaskan. Hal inilah yang nantinya dapat membawa kemajuan ilmu pengetahuan baik rumpun keilmuan sains, teknik, filsafat, sosial dan sebagainya.

Dalam prakteknya, pendidikan yang dimaksud dalam perguruan tinggi adalah berupa penyelenggaraan pendidikan seperti tingkat diploma, sarjana, dan pasca sarjana/doktoral. Hal itu termasuk didalamnya pendidikan pasca doktoral maupun program profesi atau spesialisasi bagi keilmuan tertentu yang terdiri atas jurusan dan fakultas yang menaunginya. Hal ini berlaku bagi seluruh perguruan tinggi meskipun dalam prakteknya berbeda-beda.

  1. Penelitian

Ilmu pengetahuan ada karena adanya kebutuhan bagi seluruh elemen kehidupan. Namun untuk mengetahui apakah sebuah keilmuan tersebut memang nantinya dapat memberi kemanfaatan bagi seluruh elemen makhluk hidup, maka dibutuhkan penyelidikan maupun investigasi. Inilah mengapa penelitian memegang peranan penting sebagai tridharma perguruan tinggi.

Penyelidikan atas suatu keilmuan dibutuhkan agar kita dapat menyatakan bahwa sebuah ilmu memang memberi bukan hanya pengetahuan dan kemanfaatan yang bisa diambil. Hal inilah yang membuat penelitian harus ada untuk menguji berbagai hal supaya menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Baik secara objektif maupun kritis penelitian haruslah juga memiliki berbagai kriteria agar supaya hasilnya bisa dipelajari, dikembangkan dan diterapkan. Hal ini tentu saja bukan hanya bermanfaat bagi mahasiswa saja nantinya, namun juga bagi lingkungan sekitar.

Sebagaimana pendidikan, penelitian juga harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan keilmuan pada dasarnya adalah penyelidikan menyeluruh atas seluruh elemen yang ada, sehingga sesuatunya dapat dijelaskan. Fenomena, kasus, hubungan dan sebagainya adalah hal-hal yang harus dipecahkan agar manusia (dalam hal ini mahasiswa perguruan tinggi) dapat belajar bagaimana sesuatu berjalan, atau bagaimana proses-proses itu terbentuk.

Pengejawentahan penelitian ini bisa dilihat pada bagaimana perguruan tinggi membangun laboratorium, tempat praktikum dan fasilitas penunjang pendidikan. Selain itu praktek penelitian bukan hanya dijalankan oleh penelitian dan dosen saja namun juga oleh mahasiswa. Kewajiban kepenulisan jurnal maupun tulisan akademis lain adalah bentuk praktek Tridharma Perguruan Tinggi dalam pokok penelitian ini.

  1. Pengabdian Masyarakat

Sebagai peneliti maupun mahasiswa, kita tidak hanya belajar mengenai suatu keilmuan hanya untuk kita sendiri. Melainkan juga untuk lingkungan sekitar dan tentunya bagi banyak orang. Selain itu posisi masyarakat dalam ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari pengembangan keilmuan dan pendidikan sendiri. Karena masyarakat akan selalu bergerak membuat, merancang, mendesain sampai mengeksekusi hal yang diperlukan bagi manusia itu sendiri. Hal ini sesuai dengan semangat pendidikan dan penelitian yang juga terus berkembang. Itulah mengapa pengabdian masyarakat penting untuk dilakukan dikarenakan posisinya yang sentral.

Ilmu yang kita dapatkan dalam perkuliahan diharapkan mampu menjawab tantangan yang terjadi di masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat artinya menuangkan keilmuan yang kita dapatkan di perguruan tinggi supaya bermanfaat untuk masyarakat. Bentuknya tentu bisa bermacam-macam, mulai dari penelitian, aplikasi keilmuan hingga usaha dalam bentuk mikro maupun makro. Ilmu yang sudah dipelajari hendaknya menjadi acuan bagi sivitas akademika agar ilmu pengetahuan menjadi berguna baik bagi lingkungan kampus maupun masyarakat.

Selain keilmuan, bantuan dan dukungan materil, moril, maupun sosial perguruan tinggi terhadap perkembangan masyarakat yang tentunya ke arah yang lebih baik. Perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam bentuk apapun termasuk dengan melibatkan seluruh sivitas akademika. Keberlangsungan keilmuan pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat itu sendiri sebagai salah satu instrumen kehidupan. Oleh karena itulah kontribusi perguruan tinggi diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Program pengabdian masyarakat yang selama ini dapat dirasakan manfaatnya salah satunya adalah program kerja kuliah nyata (KKN). Hadirnya mahasiswa di tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat oleh perguruan tinggi. Program lain yang dilaksanakan seperti pendampingan komunitas masyarakat maupun organisasi, advokasi, ataupun pengembangan produk bagi perekonomian masyarakat juga merupakan bentuk dari pengabdian masyarakat. Hal tersebut juga termasuk program-program perguruan tinggi yang menyasar pada pengembangan masyarakat di berbagai bidang.

Cara Mengajukan Cuti Kuliah

Anda sebagai mahasiswa sudah pasti memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi mulai dari belajar sampai kebutuhan hidup. Terutama yang terakhir biasanya lalu berdampak hampir pada semua lini kehidupan anda saat berkuliah. Wajar jika lalu anda ingin sekali menyelesaikan masalah tersebut agar tidak menjadi beban ketika anda berkuliah sembari menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang ada. Selain itu kondisi tertentu seperti kesehatan anda yang terganggu dan ekonomi keluarga juga sangat dimungkinkan dapat mengganggu kuliah anda.

Itulah mengapa beberapa perguruan tinggi termasuk Universitas Telkom memberi kelonggaran waktu bagi mahasiswanya dalam bentuk cuti kuliah. Cuti kuliah adalah semacam izin untuk tidak mengikuti kuliah dalam kurun waktu satu semester atau lebih tergantung keperluan mahasiswa. Anda bisa mengajukannya kepada pihak fakultas dan setelah itu anda diizinkan untuk tidak mengikuti perkuliahan. Selama cuti kuliah itulah anda bisa menyelesaikan masalah pribadi anda dengan harapan pada semester berikutnya perkuliahan anda akan berjalan lebih lancar dari yang sebelumnya.

Biasanya cuti kuliah ini membutuhkan pemikiran matang mengingat mahasiswa tidak akan mengikuti kegiatan perkuliahan secara penuh atau tidak masuk perkuliahan. Anda harus benar-benar mempertimbangkannya mengingat hal ini juga dapat memundurkan waktu perkuliahan dan kelulusan anda tentunya. Pastikan memang masalah yang anda hadapi memang tidak mudah dan membutuhkan persetujuan baik keluarga maupun dosen pembimbing. Terkadang hal tersebut memang sebatas formalitas, akan tetapi perlu untuk dilakukan terlebih jika kebutuhan anda memang mendesak.

Apa Itu Cuti Kuliah?

Jika anda sering mendengar istilah cuti maka anda seharusnya sudah paham mengenai topik satu ini. Cuti merupakan salah satu hak mahasiswa berupa libur atau menon-aktifkan perkuliahan untuk  sementara waktu. Setiap mahasiswa dapat menggunakan waktu non-aktifnya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, utamanya masalah pribadi. Kurun waktu cuti kuliah ini sebetulnya bebas untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Hendaknya anda juga disarankan untuk bijak dalam beraktivitas selama cuti kuliah berlangsung.

Perbedaannya adalah pada masa non-aktif kuliah yang berlaku. Cuti pekerja misalnya pada pekerjaan maupun instansi biasanya hanya diberlakukan beberapa hari atau maksimal dua minggu dalam setahun. Sementara cuti kuliah memiliki rentang waktu non-aktif sepanjang satu semester perkuliahan atau enam bulan dalam kalender. Dalam aturan baku yang berlaku mahasiswa dapat mengambil cuti sebanyak dua kali selama anda berkuliah. Artinya jika anda mengambil cuti selama dua semester, maka itu bisa dianggap non-aktif perkuliahan dalam waktu setahun. Cuti kuliah dalam rentang waktu tersebut bisa dibilang panjang.

Jika anda memiliki sejumlah permasalahan pribadi yang membutuhkan penyelesaian dan memakan waktu, maka mengambil cuti kuliah bisa jadi adalah pilihan tepat. Tentunya dengan rentang waktu panjang seperti itu maka anda diharapkan bisa menyelesaikannya dan melanjutkan perkuliahan pada semester berikutnya tanpa masalah berarti. Selain itu anda punya waktu untuk menyongsong perkuliahan selanjutnya dengan persiapan penuh. Anda juga bisa memanfaatkan cuti perkuliahan untuk mengambil beberapa acara non-formal baik di dalam maupun di luar kampus. Hal ini mengingat cuti kuliah adalah sifatnya menon-aktifkan kegiatan perkuliahan saja. Namun kegiatan lain semacam organisasi maupun tugas perkuliahan seperti skripsi atau thesis anda masih bisa mengerjakannya sembari menyelesaikan masalah pribadi anda.

  1. Alasan Mengajukan Cuti
  • Sedang sakit yang membutuhkan perawatan intensif cukup lama atau memakan waktu sehingga kegiatan akademik terganggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter bersangkutan.
  • Sedang mengalami kesulitan utamanya berkaitan dengan ekonomi mahasiswa baik dirinya sendiri maupun keluarga.
  • Bekerja untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa sendiri atau keluarganya selama waktu tertentu.
  • Mencari bahan untuk penelitian dalam kurun waktu setidaknya satu semester. Biasanya alasan ini membutuhkan persetujuan oleh dosen pengampu mata kuliah skripsi/tesis/disertasi.
  1. Aturan Cuti Kuliah
  • Mahasiswa pada semester awal (semester 1) tidak diizinkan untuk mengajukan cuti kuliah.
  • Cuti kuliah diperbolehkan dalam kurun waktu satu semester dan maksimal dua semester secara berturut-turut.
  • Tidak diperbolehkan mengambil cuti tambahan lebih dari dua kali atau dua semester lebih.
  • Memberi keterangan berupa surat pengajuan cuti kuliah.
  • Pengambilan cuti kuliah hanya diizinkan ketika mahasiswa sudah menyelesaikan kuliahnya atau maksimal sebelum masa akhir pembayaran uang semester.
  1. Cara Mengajukan Cuti Kuliah
  • Mahasiswa terlebih dahulu memberi informasi mengenai cuti kuliah yang akan diambil kepada dosen pembimbing bersangkutan.
  • Membuat surat pernyataan mengenai pengajuan cuti kuliah dengan rincian:
  1. Nama
  2. Semester
  3. Alamat
  4. Dosen Pembimbing
  5. Izin cuti pada semester yang dijalani
  • Surat harus ditandatangani mahasiswa bersangkutan dengan menyertakan materai Rp 10.000,-
  • Surat juga harus menyertakan tanda tangan dosen pembimbing dan ketua jurusan mahasiswa bersangkutan.
  • Surat diserahkan pada pihak fakultas melalui loket fakultas masing-masing maksimal ketika waktu pembayaran uang kuliah semester ditutup.
  1. Kelebihan dan Kekurangan Cuti Kuliah

Kelebihan:

  • Anda punya tenggang waktu lebih panjang untuk setidaknya menyelesaikan masalah anda secara pribadi.
  • Anda tidak perlu untuk membayar uang kuliah semester ketika anda mengambil cuti kuliah. Ini dikarenakan secara otomatis mahasiswa yang mengambil cuti kuliah berstatus tidak aktif untuk sementara waktu.
  • Cuti kuliah tentunya memudahkan mahasiswa dalam mengatur kembali rencana perkuliahannya jika nantinya akan masuk kuliah kembali.
  • Tidak ada pengurangan nilai ketika cuti kuliah diambil.

Kekurangan:

  • Waktu perkuliahan anda menjadi molor. Sebagai gambarannya perkuliahan anda yang mungkin selesai dalam waktu normal 3-4 tahun bisa jadi selesai dalam waktu 4-5 tahun. Utamanya jika anda mengambil cuti dua kali secara berturut-turut.
  • Pergantian mata kuliah yang mungkin dapat mengganggu studi anda. Ada beberapa jurusan yang mungkin menerapkan kurikulum baru ketika anda mengambil cuti kuliah. Hal ini menjadikan mata kuliah yang akan anda ambil mungkin tidak tersedia atau harus anda ambil pada semester berikutnya.
  • Waktu kelulusan anda juga bisa molor akibat imbas dari waktu perkuliahan yang juga molor disisi lain.
  • Ritme perkuliahan yang mungkin akan menjadi batu sandungan lain. Biasanya beberapa mahasiswa kehilangan fokus ketika mengambil cuti kuliah yang panjang sehingga harus mengingat-ingat kembali apa yang pernah dipelajari pada kuliah sebelumnya.
  1. Saran:
  • Jika anda memang berniat mengambil cuti kuliah karena masalah pribadi (bukan karena sakit), lebih baik mengambilnya cukup satu semester saja. Ini dikarenakan dalam waktu satu semester sudah cukup panjang.
  • Jika anda terpaksa mengambil cuti dalam setahun berturut-turut, pastikan bahwa anda mempersiapkan perkuliahan pada semester selanjutnya agar tidak kehilangan ritme perkuliahan. Anda bisa bertanya kepada teman atau dosen pengampu mata kuliah yang anda lewatkan saat cuti kuliah mengenai tugas dan beban mata kuliah bersangkutan.
  • Bijak selama cuti kuliah dengan menyelesaikan permasalahan sebaik-baiknya sehingga anda dapat melanjutkan perkuliahan pada semester berikutnya dengan lancar.

Masa Studi D3, S1, S2, dan S3

Setiap jenis pendidikan baik itu dasar, menengah dan tinggi sudah pasti memiliki masa studi yang harus dijalankan sampai seseorang dinyatakan lulus. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam belajar meskipun belajar sendiri tidak lekang oleh waktu. Program pendidikan apapun dirancang berdasarkan target yang ingin dicapai lembaga tersebut adalah alasan lain mengapa masa studi diperlukan. Tanpa target durasi yang dicanangkan artinya pendidikan akan terus berjalan tanpa arah yang jelas. Selain itu masa studi diperuntukkan bagi peserta didik untuk dilatih agar tidak membuang-buang waktu dan membuat batasan logis.

Masa studi lembaga pendidikan baik dasar dan menengah memiliki batasan jelas mengenai kapan seorang peserta didik harus dinyatakan selesai dengan pendidikannya. Contohnya sekolah dasar (SD/MI) memiliki waktu enam tahun masa studi yang harus dijalani seorang siswa. Sedangkan sekolah menengah pertama (SMP/MTS) dan sekolah menengah atas (SMA/MA/SMK) memiliki waktu pendidikan sama yaitu masing-masing selama tiga tahun masa studi. Itu belum termasuk pendidikan anak usia dini resmi seperti taman kanak-kanak (TK) yang punya masa studi sekitar dua tahun. Hal ini mengikat pada setiap lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta.

Namun hal yang agak berbeda jika anda sudah menyentuh perguruan tinggi atau sedang merencanakan studi lanjut. Masa studi lembaga perguruan tinggi memiliki waktu yang berbeda-beda meskipun terdapat pakem yang digunakan, yaitu batas maksimal kuliah. Setiap tingkat perguruan tinggi anda dapat menentukan kapan anda menghendaki lulus atau memaksimalkan waktu belajar anda. Artinya jika anda mengambil program studi tertentu, anda juga bisa lulus dengan waktu studi cepat sekitar tiga tahunan saja. Hal ini bisa menjadi benefit bagi anda yang ingin lulus cepat supaya segera bekerja atau melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Masa Studi D3, S1, S2, dan S3

Sebenarnya pendidikan tinggi menyediakan waktu belajar yang lebih longgar bagi mahasiswanya sampai dinyatakan lulus. Sekitar tahun 1990-2014 bahkan anda bisa kuliah S1 dalam waktu longgar, sekitar 7 tahun atau setara 14 semester. Namun saat ini terdapat pembatasan maksimal kuliah menjadi 5 tahun saja karena dinilai terlalu lama. Jadi ini bukanlah masalah apakah anda mau kuliah dengan kelulusan cepat atau lama, melainkan seberapa baik anda memanfaatkan waktu untuk belajar. Hal ini mengingat belajar bisa dimana saja dan kapan saja, namun harus ada target yang hendak dicapai. Batas waktu otomatis menjadi salah satu yang harus ditetapkan agar target tersebut terwujud. Berikut masa studi D3, S1, S2 dan S3: 

  1. Masa Studi Diploma 3 (D3)

Pendidikan diploma atau lebih dikenal dengan pendidikan vokasi adalah pendidikan yang berfokus pada keahlian dan praktek kerja. Di Indonesia jenis pendidikan ini hampir bisa ditemui merata mulai dari universitas sampai sekolah tinggi. Meskipun begitu biasanya pendidikan D3 tidaklah mendominasi meskipun keberadaannya di setiap sekolah tinggi ada dan eksis. Jurusannya juga sama dengan pendidikan tinggi lainnya dengan fokus yang berbeda-beda. Waktu belajar pendidikan diploma 3 ini secara umum dapat selesai dalam tiga tahun. Ketika menyelesaikan pendidikan vokasi ini biasanya mahasiswa wajib menyelesaikannya dengan hasil karya berbasiskan praktek langsung. Praktek tersebut lalu dijelaskan dalam bentuk paper tugas akhir dan dijelaskan kepada tiga dosen penguji yang ditunjuk oleh jurusan. Mahasiswa dianggap lulus apabila dapat menjelaskan karya yang ia buat dan signifikansi keilmuan yang didapatkannya. Selain itu lulusannya juga dapat melanjutkan ke tingkat S1 dengan waktu yang lebih singkat sekitar kurang dari dua tahun untuk melengkapinya dengan skripsi.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 1 (S1)

Pendidikan kesarjanaan yang pertama atau S1 adalah pendidikan sarjana yang berfokus pada pemahaman seputar teori dan praktek nyatanya. Pendidikan kesarjanaan sendiri adalah pendidikan tinggi yang mendominasi pendidikan universitas maupun sekolah tinggi. Jurusannya terbagi dalam beberapa rumpun keilmuan yang sifatnya lebih luas ketimbang pendidikan diploma. Waktu belajar pendidikan S1 berkisar antara 3,5 tahun sampai 5 tahun tergantung bagaimana cara mahasiswa menyelesaikan pendidikannya. Ada juga beberapa program studi jurusan yang mewajibkan batas minimal lima tahun studi sebagai syaratnya walaupun tidak banyak yang menerapkan hal ini. Bahkan dewasa ini tidak jarang kita melihat bahwa ada sejumlah kecil mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan S1 ini dalam waktu tiga tahun saja. Mahasiswa jika ingin lulus S1 harus menyelesaikannya dengan membuat penelitian berupa skripsi ataupun karya bergantung kebijakan jurusan. Skripsi maupun hasil karya akhir tersebut nantinya juga diuji oleh tiga dosen penguji yang ditunjuk oleh jurusan. Mahasiswa dapat dianggap lulus jika dapat menjelaskan penelitian dan karyanya dihadapan penguji.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 2 (S2)

Pendidikan pasca sarjana sebetulnya terbagi menjadi dua tingkat, yaitu tingkat magister dan doktoral. Tingkat magister inilah yang dinamakan pendidikan sarjana strata dua atau lebih dikenal dengan S2. Pendidikan S2 adalah jenis pendidikan tingkat lanjut yang biasanya lebih banyak dikonsentrasikan pada pengembangan teori, metodologi, fenomena keilmuan dan kemampuan manajerial. Penguasaan teori pada jenis pendidikan ini bisa dikatakan lebih luas ketimbang S1 yang berkisar pada pemahaman, sedangkan pada S2 lebih kepada pendalaman teori dan hipotesis. Tidak heran apabila pendidikan S2 lebih cocok bagi anda yang ingin menjadi peneliti, dosen atau ahli. Waktu belajar untuk pendidikan S2 berkisar antara 2 tahun sampai maksimal 3 tahun. Jika anda berniat melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri, terdapat program magister yang masa studinya hanya 1 tahun saja (terutama di Inggris). Pada akhir pendidikan S2 biasanya mahasiswa diwajibkan membuat penelitian yang dituangkan dalam bentuk tesis. Tesis sendiri merupakan sebuah karya penelitian yang lebih berfokus pada adaptasi teori, asumsi, hipotesis serta konsep terhadap kondisi untuk menjawab dan menjelaskan fenomena. Mahasiswa dianggap lulus pada tingkat ini apabila dapat menjelaskan karya yang ia buat dihadapan tiga dosen (doktor) penguji.

  1. Masa Studi Sarjana Strata 3 (S3)

Pendidikan tertinggi yang sering disebut dengan pendidikan doktoral ini lebih berfokus pada pembuatan teori untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan doktoral pada satu sisi akan lebih banyak berkutat pada praktek penelitian lanjutan yang sudah dikembangkan mahasiswa cum peneliti. Walhasil pendidikan doktoral ini membutuhkan masa studi yang lebih panjang dari S2 namun uniknya hampir setara dengan pendidikan S1, yaitu sekitar 4 sampai maksimal 7 tahun. Jika anda berniat mengambil studi S3 di luar negeri, bahkan ada yang menawarkan studi doktoral hanya tiga tahun saja. Kriteria kelulusannya ditentukan pada hasil karya sebuah disertasi, yaitu penelitian yang mencoba untuk mengeksplorasi pemahaman baru atau bahkan bantahan terhadap teori lama. Perbedaannya adalah mahasiswa S3 biasanya membutuhkan seorang promotor penelitian (dosen pembimbing) sebelum pada akhirnya dinyatakan sebagai candidate dan menyelesaikan seluruh rangkaian studinya. Sistemnya agak berbeda dengan pendidikan tinggi dibawahnya yang biasanya hanya membutuhkan dosen pembimbing saja.

Cara Memperoleh IPK Tinggi

Setiap penilaian kompetensi mahasiswa terhadap sebuah mata kuliah haruslah punya ukuran untuk menunjukkan seberapa dalam pemahaman mahasiswa. Hal itulah mengapa indeks penilaian kumulatif (IPK) menjadi sangat penting. Ukuran penilaian IPK terdiri atas 1.00 sebagai nilai terendah sampai 4.00 dengan nilai tertinggi. 

Meskipun begitu, dibutuhkan usaha lebih untuk memperoleh nilai IPK yang baik apalagi tinggi. Benar bahwa nilai IPK bukanlah penentu utama kesuksesan studi anda, apalagi menentukan nasib anda. Namun IPK bisa dijadikan ukuran tentang seberapa serius dan usaha anda untuk memahami sebuah mata kuliah selama satu semester. Belum lagi jika anda tertarik untuk mengambil beasiswa atau program kerja tertentu yang membutuhkan IPK tinggi.

Dalam tulisan ini kami akan mencoba untuk memberikan tips bagaimana cara untuk memperoleh IPK tinggi. Namun sebelum anda menginjak ke caranya, terlebih dahulu anda harus memahami komponen apa saja yang dinilai dalam menentukan penilaian kumulatif. Dengan begitu anda akan menjadi paham sebelum menentukan bagian mana saja yang hendak anda maksimalkan dalam perkuliahan.

PengertIan IPK

IPK atau Indeks Penilaian Kumulatif adalah sebuah penilaian atau tolak ukur untuk membaca sejauh mana mahasiswa memahami perkuliahan. Biasanya pengertian mengenai IPK ini banyak sesuai cara pandang kita. Namun yang harus dipahami adalah IPK merupakan ukuran tertentu sejauh mana mahasiswa dapat mengikuti dan memahami perkuliahan beserta praktek, contoh konkret maupun beban yang diselesaikan. Itulah mengapa IPK dalam beberapa hal mencakup seluruh hal mulai dari kedatangan perkuliahan, keaktivan dan praktek sesuai mata kuliahnya.

Komponen penilaiannya pun ada banyak dan terkadang tidak seragam antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Hal ini dikarenakan IPK juga menyasar tujuan tertentu atau output dalam perkuliahannya. Ada yang menyasar pemahaman teoritik dan pengembangan konsep seperti pada mata kuliah teori, ada juga yang berbasis pada praktek. Jelasnya tergantung dari bagaimana rancangan perkuliahan itu nantinya dijalankan beserta tujuannya. Namun secara umum, ada beberapa aspek penilaian yang nantinya dituangkan dalam IPK, yaitu:

  1. Nilai UTS dan UAS (60-80%)

Biasanya dua hal inilah yang memegang peranan penting dalam penilaian perkuliahan. Cakupannya adalah dominan dan hal ini tidak bisa untuk ditawar apapun bentuknya. Bentuk ujian UTS maupun UAS bisa bermacam-macam, mulai dari menjawab pertanyaan yang diujikan maupun ujian dalam bentuk praktek. Bentuknya yaitu:

  1. Ujian Teoritik, biasanya anda akan mendapatkan pertanyaan baik secara teori, konsep maupun pengertian kausal yang nantinya anda harus menjawab sesuai dengan apa yang anda pahami.
  2. Ujian Praktek, ujian ini lebih banyak seputar tugas eksplorasi kemampuan anda dalam menjalankan alat atau instrumen perkuliahan tertentu. Ujian jenis ini biasanya dilakukan secara individual maupun berkelompok.
  3. Ujian Karya, ujian ini sebetulnya sama dengan ujian praktek pada dasarnya. Namun letak perbedaannya yaitu pada jenis output-nya yang berupa karya mahasiswa. Bukan seperti ujian praktek dimana mahasiswa hanya menjalankan instrumen atau alat tertentu di laboratorium atau tempat studi terpadu. Ujian ini biasanya dilakukan diluar kelas dan kampus, individu maupun berkelompok.
  1. Penugasan (30-45%)

Tugas yang diberikan dosen kepada anda biasanya memegang salah satu poin krusial. Jika merujuk pada mata kuliahnya, maka tugas perkuliahannya bervariasi sesuai dengan goal yang menjadi tujuannya. Namun secara bentuk, ada dua bentuk penugasan yang harus anda ketahui yaitu:

  1. Presentasi, tugas ini biasanya jamak dilakukan mahasiswa semester awal sampai semester akhir. Dalam beberapa hal poin presentasi ini memegang separuh dari penilaian penugasan, terutama jika presentasi anda baik.
  2. Paper atau makalah, biasanya berbentuk seperti materi studi yang biasanya disusun sesuai dengan arahan dosen pengampu mata kuliah. Ada juga yang bentuknya mirip dengan jurnal penelitian namun lebih banyak mengeksplorasi konsep, teori dan fenomena.
  3. Tugas karya, tugas yang diberikan dosen yang bentuknya bisa bermacam-macam sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Misalnya menghitung populasi pada makul metode kuantitatif, atau membuat berita seperti pada makul jurnalistik dan sebagainya.
  1. Keaktifan Perkuliahan (15-30%)

Keaktifan anda dalam sebagai korektor, kritikus, maupun konstruktor dalam perkuliahan dapat membantu dalam meningkatkan IPK anda. Namun aktif dalam perkuliahan bukan berarti tidak ada ukuran pastinya. Ukuran pasti keaktifan perkuliahan terletak pada proses perkuliahan dalam sebuah mata kuliah itu sendiri. Artinya jika anda ingin nilai IPK anda lebih tinggi, keaktifan perkuliahan tetap diperlukan meskipun bukan faktor dominan.

  1. Kehadiran (5-25%)

Selain penugasan dan keaktifan, kehadiran di kelas adalah hal yang juga diniliai dalam IPK walaupun tidak mutlak dalam beberapa kasus kecil. Ada beberapa dosen yang memberi kelonggaran mahasiswanya jika sudah melaksanakan tugas tertentu dan diizinkan untuk tidak mengikuti kuliah. Namun kasus semacam ini sebetulnya jarang, jadi anda perlu juga memperhatikan kehadiran anda dan peraturan di kelas. Karena kehadiran meskipun memegang porsi kecil, namun dapat menentukan nasib keseluruhan anda di kelas. Masih banyak saat ini mahasiswa mendapatkan IPK kecil hanya karena jarang di kelas atau sering tidak masuk. Alasan yang sebetulnya klasik nan sepele namun berakibat fatal pada kelancaran perkuliahan dan mempengaruhi IPK anda tentunya.

Cara Memperoleh IPK Tinggi

  1. Maksimalkan Penugasan dan Presentasi

Bagian ini biasanya mencakup lebih dari separuh nilai perkuliahan yang anda ikuti baik di mata kuliah teoritik maupun praktek. Bahkan ada beberapa kasus dimana dosen memberikan porsi lebih pada penugasan disamping keaktifan perkuliahan. Hal ini juga berlaku pada tugas UTS dan UAS yang biasanya memegang porsi besar dalam IPK perkuliahan. Artinya jika anda menguasa penugasan dan presentasi baik ketika kuliah maupun ujian tengah semeseter dan akhir, hal itu dapat menjamin setidaknya maksimal 50%-80% dari nilai IPK anda.

Namun tentu saja dibutuhkan usaha yang maksimal pula dalam penugasan. Apapun yang menjadi kriteria penugasan dan presentasi yang diinginkan dosen mata kuliah anda harus dipenuhi. Anda harus bisa menangkap tantangan yang diberikan pada saat perkuliahan dengan tepat. Hal ini penting dilakukan jika anda menginginkan IPK tinggi.

  1. Buat review Kuliah dengan Baik

Jika anda mendapatkan dosen yang berkutat seputar kepenulisan mengenai materi perkuliahan baik sebelum atau ketika perkuliahan, maka perhatikan pada poin ini. Literature Review biasaya diberikan dosen selain untuk melihat kemampuan dan pemahaman mahasiswa, disisi lain merupakan salah satu “pendongkrak” nilai anda di kelas. Hal ini dikarenakan dosen hanya akan melihat hasil pemahaman anda secara komprehensif.

Maka dari itulah jika anda ingin nilai IPK anda terdongkrak secara maksimal, buatlah review perkuliahan yang baik dari titik koma sampai cara berpikir logika anda. Panjangnya tulisan tidak akan berarti apa-apa jika isi review anda tidak terlihat lokus berpikir anda beserta dasar-dasarnya. Anda harus benar-benar detail jika ingin mendapatkan IPK yang baik melalui jalan satu ini.

  1. Keaktifan sebagai Korektor

Jika anda aktif dalam perkuliahan, sangat disarankan bahwa anda harus mengeksplorasi setiap mata kuliah yang diikuti. Untuk itulah menjadi korektor dalam perkuliahan lebih dibutuhkan. Keaktifan anda sebagai korektor atau bahkan kritikus perkuliahan selain dapat membantu anda dalam memahami perkuliahan, itu juga menunjukkan niat menuntut ilmu.

Keaktifan anda biasanya dinilai dari bobot komentar ataupun pertanyaan yang anda ajukan. Selain itu intensnya anda membuka pembicaraan atau perdebatan di kelas juga dapat menunjang penilaian. Biasaya dosen akan memberi poin plus bagi mahasiswa yang dapat membuka diskusi atau perdebatan di kelas.

  1. Kuasai Poin dan Inti Perkuliahan

Menguasai inti-inti dari perkuliahan memang tidak langsung menjamin IPK anda tinggi secara kumulatif. Namun menguasai inti perkuliahan dapat memudahkan anda untuk menunjang penugasan dan keaktifan anda di kelas. Itulah mengapa ada beberapa dosen pada mata kuliah teoritik cenderung menyodori anda buku dan jurnal penelitian. Hal ini dilakukan agar anda bukan hanya paham, namun dapat menerapkan dan menjelaskan konsep dengan tepat pada tugas kuliah berupa karya ataupun tulisan.

Hal ini juga berlaku ketika anda sudah menginjak UTS ataupun UAS yang menyumbang porsi IPK dominan. Bahkan jika anda menguasai inti perkuliahan, anda akan menjawab tugas tersebut lebih mudah dan justru mengeksplorasi jawaban dengan maksimal. Tentu saja hal ini bisa meningkatkan nilai IPK anda secara signifikan.

  1. Mintalah Tugas Tambahan (Apabila Anda Belum Puas dengan IPK yang Anda Dapatkan)

Jangan segan untuk melakukan hal satu ini. Banyak dosen yang terkadang memberi nilai seadanya dengan tujuan memancing mahasiswa supaya lebih baik. Meskipun cara ini terlihat “memaksa” namun anda dijamin akan lebih dihargai oleh dosen anda jika mengambil langkah ini.

Kasus semacam ini memang jarang sekali ditemui, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Beberapa dosen malah senang jika ada mahasiswa yang mau berusaha keras untuk menunjukkan hasil, tidak peduli seperti apa bentuk tugas yang diberikan. Meminta tugas atau meminta saran dosen sangat disarankan bagi anda yang mengincar nilai tertentu yang tentunya dapat mendongkrak IPK anda.

Pengertian Sistem Kredit Semester (SKS), Nilai dan Bobotnya

Sistem Kredit Semester atau SKS adalah satuan jumlah bobot mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa berdasarkan durasi waktu per minggunya. Sistem ini memungkinkan mahasiswa untuk mencapai perkuliahan efektif dalam masa studinya. Itulah mengapa mahasiswa diwajibkan untuk menempuh batas SKS tertentu untuk menyelesaikan masa studinya disamping mata kuliah wajib dan pilihan.

Selama 16 minggu perkuliahan, mahasiswa harus mengambil beberapa mata kuliah yang didalamnnya terdapat satuan jumlah bobot mata kuliah. Semakin banyak bobot jumlah SKS yang diambil, maka semakin banyak waktu perkuliahannya. Namun semakin banyak juga mata kuliah yang diambil, maka semakin cepat pula masa studi yang nantinya ditempuh. Artinya semakin banyak jumlah SKS yang diambil maka kemungkinan kelulusan bisa lebih cepat dan efektif.

Hal yang harus diperhatikan mahasiswa ketika mengambil mata kuliah adalah dengan memperhatikan jumlah bobot SKS-nya. Hal ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui seperti apa beban perkuliahan yang nantinya akan ditempuh. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan mahasiswa dalam menempuh masa studinya. Setiap mata kuliah memiliki jumlah bobot SKS yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan pihak fakultas dan jurusan. Oleh karena itu mahasiswa harus memperhatikan dengan saksama agar nantinya mahasiswa siap dengan mata kuliah yang akan diambil.

Jumlah Bobot dalam Sistem Kredit Semester (SKS)

Pada dasarnya bobot SKS diukur berdasarkan durasi perkuliahan. Satu SKS misalnya jika dihitung dalam bentuk satuan waktu berdurasi 50 menit. Hal ini juga berlaku pada kelipatannya meskipun untuk jumlah SKS yang tinggi (misalnya 4-6 SKS) biasanya tidak dihitung durasinya. Hal ini dikarenakan mata kuliah dengan SKS tinggi ukurannya adalah keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak tergantung pada durasinya.

Namun yang harus menjadi catatan adalah semakin besar SKS maka semakin besar pula bobot dan durasi perkuliahan. Hal ini bisa anda lihat pada mata kuliah berbobot 3 SKS yang biasanya terdiri atas mata kuliah berbasiskan pada teori induk ataupun praktikum. Hal ini juga berlaku pada mata kuliah lain yang memiliki bobot besar. Durasi perkuliahan juga lebih longgar dikarenakan pendalaman materi yang lebih komprehensif sehingga membutuhkan waktu lebih panjang dalam perkuliahan. Hal tersebut bisa anda lihat pada rincian bobot berikut ini:

  1. Mata Kuliah 1-2 SKS

Jika anda baru menginjak kuliah pertama atau maksimal pada semester tiga, maka anda akan sering menemui mata kuliah dengan bobot SKS ini. Ini dikarenakan mata kuliah 1 dan 2 SKS banyak berkutat pada mata kuliah penunjang teori atau berkisar pada topik perkuliahan terkini. Beban mata kuliah ini memang lebih ringan, namun penting dikarenakan mata kuliahnya yang merupakan fondasi teori.

Mata kuliah dengan bobot 1-2 SKS ini memiliki jam pengajaran sebesar 50 sampai 100 menit. Hal itu juga berlaku untuk penugasan per mata kuliah yang juga dihitung sama besarnya dengan durasi perkuliahan. Meskipun bobot dan durasinya terbilang pendek, namun tetap penting dikarenakan mata kuliahnya dapat dimanfaatkan sebagai landasan berpikir dan pengembangan teoritik mahasiswa. Beberapa mata kuliah yang masuk dalam kategori ini umumnya adalah teori, konsep dan topik permasalahan kontemporer.

  1. Mata Kuliah 3 SKS

Biasanya mata kuliah dengan bobot 3 SKS sudah akan anda temui di awal kuliah anda. Namun bebannya akan sangat terasa ketika anda sudah menginjak semester keempat sampai akhir semester. Mata kuliah dengan bobot 3 SKS ini akan anda temui di mata kuliah berbasis teori induk keilmuan, praktikum dan tingkat lanjut. Itulah mengapa mata kuliah 3 SKS dinilai lebih berbobot dan tugasnya lebih menantang bagi mahasiswa kebanyakan.

Mata kuliah berbobot 3 SKS ini biasanya memiliki durasi kuliah sepanjang dua setengah jam sampai tiga jam, sekali lagi tergantung kebijakan kampus maupun fakultas. Mata kuliah dengan bobot ini membuat mahasiswa dapat mengembangkan teori lanjutan, skill, dan praktek kerja. Mata kuliah yang masuk dalam kategori ini secara umum diantaranya adalah teknik, teori, produksi dan filsafat.

  1. Mata Kuliah 4 SKS

Sebetulnya penilaian magang atau kuliah kerja nyata bisa dibilang memiliki bobot jumlah kredit semester yang sama. Bobot mata kuliah 4 SKS ini jika dihitung secara durasi mata kuliahnya adalah setara dengan tiga jam perkuliahan. Namun karena keduanya merupakan mata kuliah berbasis praktikum, penghitungan semacam ini tidak diperlukan. Jelasnya mata kuliah ini dianggap terpenuhi apabila mahasiswa mengambil dan melaksanakan tugas yang diberikan pihak universitas maupun fakultas.

Mata kuliah dengan bobot ini bertujuan untuk pengembangan kemampuan kognitif mahasiswa terhadap lingkungan kerja, sosial maupun penelitian. Selain itu mata kuliah dengan bobot 4 SKS dirancang agar mahasiswa dapat secara adaptif mengembangkan keilmuan sebelumnya yang sudah dikuasai. Beberapa mata kuliah yang secara umum masuk kategori ini adalah kalkulus, kepenulisan proposal penelitian, magang, dan kuliah kerja nyata (KKN).

  1. Skripsi/Karya Akhir 6 SKS

Mata kuliah skripsi/karya pada dasarnya merupakan tugas wajib yang harus dijalankan mahasiswa pada tingkat akhir untuk menunjukkan bahwa mahasiswa memang sudah layak untuk diluluskan. Itulah mengapa bobot kredit semester ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan mata kuliah pada umumnya. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah dengan bobot ini selain melaksanakan tugas, juga dituntut secara intensif untuk melakukan bimbingan dengan dosen pengampunya.

Mata kuliah yang memiliki bobot paling besar ini dirancang untuk memacu mahasiswa pada level yang sesungguhnya, yaitu pemahaman mendalam akan suatu kejadian kausal atau fenomena. Selain itu mahasiswa dapat mengeksplorasi antara teori dan praktek secara intensif. Mata kuliah yang termasuk dalam bobot ini secara umum adalah skripsi dan karya akhir.

SKS Minimal dan Maksimal yang Harus Diambil

Pada setiap semester, mahasiswa diharuskan untuk mengambil setidaknya dalam jumlah normal adalah 21 SKS per semester. Hal ini langsung berlaku ketika anda menginjak pada semester awal. Selanjutnya bagi anda yang memiliki IPK lebih dari 3.50, maka anda diperbolehkan mengambil mata kuliah semester atas dengan bobot maksimal 24 SKS. Jika anda mengambil SKS kurang dari 21 SKS sebetulnya diperbolehkan. Akan tetapi hal tersebut dapat mempengaruhi durasi masa studi anda, sehingga bijaklah dalam mengambil bobot mata kuliah supaya masa studi anda normal adanya.

Mengapa Bobot Mata Kuliah Berbeda-beda?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa antara satu mata kuliah dengan lainnya memiliki beban masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda maksudnya. Itulah mengapa tidak ada dalam satu bentuk perkuliahan di suatu jurusan memiliki beban yang sama antar mata kuliahnya. Selain itu penentuan bobot mata kuliah dalam SKS juga ditentukan faktor lain seperti, jumlah total SKS keseluruhan sampai dinyatakan lulus, sasaran perkuliahan sampai beban maksimal mata kuliah. 

Hal inilah yang menjadikan antara satu jurusan harus menentukan mana mata kuliah yang diprioritaskan tinggi, menengah dan lanjutan. Oleh karena faktor-faktor itulah bobot mata kuliah menjadi berbeda-beda dan tidak sama antara satu dengan lainnya. Hal itu belum termasuk keputusan di tingkat jurusan, fakultas maupun rektorat dalam mengatur bobot mata kuliah tertentu, yang juga memperhatikan faktor-faktor tadi.

Namun pada dasarnya satuan kredit semester (SKS) ini dibuat untuk membekali mahasiswa kemampuan tertentu yang menjadi sasaran tujuan perkuliahan. Sebagai mahasiswa anda hanya perlu untuk memperhatikan bobot mata kuliah tersebut agar anda siap dengan mata kuliah yang diambil. Karena itu dapat mempengaruhi indeks penilaian kumulatif (IPK) anda selama berkuliah disamping beban total jumlah mata kuliah per semester.