Pengertian Sistem Kredit Semester (SKS), Nilai dan Bobotnya

Sistem Kredit Semester atau SKS adalah satuan jumlah bobot mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa berdasarkan durasi waktu per minggunya. Sistem ini memungkinkan mahasiswa untuk mencapai perkuliahan efektif dalam masa studinya. Itulah mengapa mahasiswa diwajibkan untuk menempuh batas SKS tertentu untuk menyelesaikan masa studinya disamping mata kuliah wajib dan pilihan.

Selama 16 minggu perkuliahan, mahasiswa harus mengambil beberapa mata kuliah yang didalamnnya terdapat satuan jumlah bobot mata kuliah. Semakin banyak bobot jumlah SKS yang diambil, maka semakin banyak waktu perkuliahannya. Namun semakin banyak juga mata kuliah yang diambil, maka semakin cepat pula masa studi yang nantinya ditempuh. Artinya semakin banyak jumlah SKS yang diambil maka kemungkinan kelulusan bisa lebih cepat dan efektif.

Hal yang harus diperhatikan mahasiswa ketika mengambil mata kuliah adalah dengan memperhatikan jumlah bobot SKS-nya. Hal ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui seperti apa beban perkuliahan yang nantinya akan ditempuh. Tujuannya tentu saja untuk memudahkan mahasiswa dalam menempuh masa studinya. Setiap mata kuliah memiliki jumlah bobot SKS yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan pihak fakultas dan jurusan. Oleh karena itu mahasiswa harus memperhatikan dengan saksama agar nantinya mahasiswa siap dengan mata kuliah yang akan diambil.

Jumlah Bobot dalam Sistem Kredit Semester (SKS)

Pada dasarnya bobot SKS diukur berdasarkan durasi perkuliahan. Satu SKS misalnya jika dihitung dalam bentuk satuan waktu berdurasi 50 menit. Hal ini juga berlaku pada kelipatannya meskipun untuk jumlah SKS yang tinggi (misalnya 4-6 SKS) biasanya tidak dihitung durasinya. Hal ini dikarenakan mata kuliah dengan SKS tinggi ukurannya adalah keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas, sehingga tidak tergantung pada durasinya.

Namun yang harus menjadi catatan adalah semakin besar SKS maka semakin besar pula bobot dan durasi perkuliahan. Hal ini bisa anda lihat pada mata kuliah berbobot 3 SKS yang biasanya terdiri atas mata kuliah berbasiskan pada teori induk ataupun praktikum. Hal ini juga berlaku pada mata kuliah lain yang memiliki bobot besar. Durasi perkuliahan juga lebih longgar dikarenakan pendalaman materi yang lebih komprehensif sehingga membutuhkan waktu lebih panjang dalam perkuliahan. Hal tersebut bisa anda lihat pada rincian bobot berikut ini:

  1. Mata Kuliah 1-2 SKS

Jika anda baru menginjak kuliah pertama atau maksimal pada semester tiga, maka anda akan sering menemui mata kuliah dengan bobot SKS ini. Ini dikarenakan mata kuliah 1 dan 2 SKS banyak berkutat pada mata kuliah penunjang teori atau berkisar pada topik perkuliahan terkini. Beban mata kuliah ini memang lebih ringan, namun penting dikarenakan mata kuliahnya yang merupakan fondasi teori.

Mata kuliah dengan bobot 1-2 SKS ini memiliki jam pengajaran sebesar 50 sampai 100 menit. Hal itu juga berlaku untuk penugasan per mata kuliah yang juga dihitung sama besarnya dengan durasi perkuliahan. Meskipun bobot dan durasinya terbilang pendek, namun tetap penting dikarenakan mata kuliahnya dapat dimanfaatkan sebagai landasan berpikir dan pengembangan teoritik mahasiswa. Beberapa mata kuliah yang masuk dalam kategori ini umumnya adalah teori, konsep dan topik permasalahan kontemporer.

  1. Mata Kuliah 3 SKS

Biasanya mata kuliah dengan bobot 3 SKS sudah akan anda temui di awal kuliah anda. Namun bebannya akan sangat terasa ketika anda sudah menginjak semester keempat sampai akhir semester. Mata kuliah dengan bobot 3 SKS ini akan anda temui di mata kuliah berbasis teori induk keilmuan, praktikum dan tingkat lanjut. Itulah mengapa mata kuliah 3 SKS dinilai lebih berbobot dan tugasnya lebih menantang bagi mahasiswa kebanyakan.

Mata kuliah berbobot 3 SKS ini biasanya memiliki durasi kuliah sepanjang dua setengah jam sampai tiga jam, sekali lagi tergantung kebijakan kampus maupun fakultas. Mata kuliah dengan bobot ini membuat mahasiswa dapat mengembangkan teori lanjutan, skill, dan praktek kerja. Mata kuliah yang masuk dalam kategori ini secara umum diantaranya adalah teknik, teori, produksi dan filsafat.

  1. Mata Kuliah 4 SKS

Sebetulnya penilaian magang atau kuliah kerja nyata bisa dibilang memiliki bobot jumlah kredit semester yang sama. Bobot mata kuliah 4 SKS ini jika dihitung secara durasi mata kuliahnya adalah setara dengan tiga jam perkuliahan. Namun karena keduanya merupakan mata kuliah berbasis praktikum, penghitungan semacam ini tidak diperlukan. Jelasnya mata kuliah ini dianggap terpenuhi apabila mahasiswa mengambil dan melaksanakan tugas yang diberikan pihak universitas maupun fakultas.

Mata kuliah dengan bobot ini bertujuan untuk pengembangan kemampuan kognitif mahasiswa terhadap lingkungan kerja, sosial maupun penelitian. Selain itu mata kuliah dengan bobot 4 SKS dirancang agar mahasiswa dapat secara adaptif mengembangkan keilmuan sebelumnya yang sudah dikuasai. Beberapa mata kuliah yang secara umum masuk kategori ini adalah kalkulus, kepenulisan proposal penelitian, magang, dan kuliah kerja nyata (KKN).

  1. Skripsi/Karya Akhir 6 SKS

Mata kuliah skripsi/karya pada dasarnya merupakan tugas wajib yang harus dijalankan mahasiswa pada tingkat akhir untuk menunjukkan bahwa mahasiswa memang sudah layak untuk diluluskan. Itulah mengapa bobot kredit semester ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan mata kuliah pada umumnya. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah dengan bobot ini selain melaksanakan tugas, juga dituntut secara intensif untuk melakukan bimbingan dengan dosen pengampunya.

Mata kuliah yang memiliki bobot paling besar ini dirancang untuk memacu mahasiswa pada level yang sesungguhnya, yaitu pemahaman mendalam akan suatu kejadian kausal atau fenomena. Selain itu mahasiswa dapat mengeksplorasi antara teori dan praktek secara intensif. Mata kuliah yang termasuk dalam bobot ini secara umum adalah skripsi dan karya akhir.

SKS Minimal dan Maksimal yang Harus Diambil

Pada setiap semester, mahasiswa diharuskan untuk mengambil setidaknya dalam jumlah normal adalah 21 SKS per semester. Hal ini langsung berlaku ketika anda menginjak pada semester awal. Selanjutnya bagi anda yang memiliki IPK lebih dari 3.50, maka anda diperbolehkan mengambil mata kuliah semester atas dengan bobot maksimal 24 SKS. Jika anda mengambil SKS kurang dari 21 SKS sebetulnya diperbolehkan. Akan tetapi hal tersebut dapat mempengaruhi durasi masa studi anda, sehingga bijaklah dalam mengambil bobot mata kuliah supaya masa studi anda normal adanya.

Mengapa Bobot Mata Kuliah Berbeda-beda?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa antara satu mata kuliah dengan lainnya memiliki beban masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda maksudnya. Itulah mengapa tidak ada dalam satu bentuk perkuliahan di suatu jurusan memiliki beban yang sama antar mata kuliahnya. Selain itu penentuan bobot mata kuliah dalam SKS juga ditentukan faktor lain seperti, jumlah total SKS keseluruhan sampai dinyatakan lulus, sasaran perkuliahan sampai beban maksimal mata kuliah. 

Hal inilah yang menjadikan antara satu jurusan harus menentukan mana mata kuliah yang diprioritaskan tinggi, menengah dan lanjutan. Oleh karena faktor-faktor itulah bobot mata kuliah menjadi berbeda-beda dan tidak sama antara satu dengan lainnya. Hal itu belum termasuk keputusan di tingkat jurusan, fakultas maupun rektorat dalam mengatur bobot mata kuliah tertentu, yang juga memperhatikan faktor-faktor tadi.

Namun pada dasarnya satuan kredit semester (SKS) ini dibuat untuk membekali mahasiswa kemampuan tertentu yang menjadi sasaran tujuan perkuliahan. Sebagai mahasiswa anda hanya perlu untuk memperhatikan bobot mata kuliah tersebut agar anda siap dengan mata kuliah yang diambil. Karena itu dapat mempengaruhi indeks penilaian kumulatif (IPK) anda selama berkuliah disamping beban total jumlah mata kuliah per semester.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *